Gencatan Senjata Paskah Rusia&Ukraina Kandas: Kyiv Tuduh Moskow Langgar 32 Jam

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Gencatan senjata Paskah Ortodoks selama 32 jam antara Rusia dan Ukraina yang disepakati, diklaim oleh Kyiv langsung dilanggar oleh Moskow pada Sabtu (11/4/2026). Komando militer Ukraina menuduh Rusia melakukan hampir 470 insiden pelanggaran yang meliputi serangan udara, serangan pesawat tak berawak, hingga penembakan, demikian dilansir dari Detikcom.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan gencatan senjata pada Kamis (9/4) setelah usulan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky disampaikan lebih dari seminggu sebelumnya. Kedua belah pihak awalnya sepakat untuk mematuhinya, dengan gencatan senjata dijadwalkan berlangsung dari pukul 16.00 waktu setempat pada Sabtu hingga akhir hari Minggu (12/4).

Namun, pada Sabtu malam, militer Ukraina melalui akun Facebook-nya menyatakan bahwa 469 pelanggaran gencatan senjata telah tercatat. Rincian insiden tersebut mencakup 22 aksi penyerangan oleh musuh, 153 serangan penembakan, 19 serangan pesawat tak berawak, dan 275 serangan pesawat tak berawak FPV.

Secara keseluruhan, militer Ukraina melaporkan bahwa Rusia telah melancarkan 57 serangan udara dan menjatuhkan 182 bom udara berpemandu. Mereka juga disebut mengerahkan 3.928 drone dan melakukan 2.454 serangan artileri yang menargetkan daerah berpenduduk serta posisi pasukan Ukraina.

Di sisi lain, Gubernur wilayah Kursk, Rusia, Alexander Khinshtein, menuduh Kyiv melanggar gencatan senjata. Ia menyebut Ukraina menyerang sebuah SPBU di kota Lgov dengan drone, melukai tiga orang termasuk seorang bayi.

Dalam pidatonya pada Sabtu malam, Presiden Zelensky menyerukan gencatan senjata yang lebih lama. "Kami telah mengajukan proposal ini kepada Rusia, dan jika Rusia sekali lagi memilih perang daripada perdamaian, ini akan sekali lagi menunjukkan kepada dunia, dan kepada Amerika Serikat, siapa yang sebenarnya menginginkan apa," ujarnya.

Beberapa jam sebelum gencatan senjata dijadwalkan dimulai, Rusia meluncurkan setidaknya 160 drone ke Ukraina, menewaskan empat orang di wilayah timur dan selatan, serta melukai puluhan lainnya. Pada saat yang sama, gelombang drone Ukraina memicu kebakaran di depot minyak dan merusak gedung apartemen di wilayah Krasnodar selatan Rusia.

Warga Kharkiv, kota dekat perbatasan Rusia yang kerap menjadi sasaran serangan harian, telah menyikapi gencatan senjata ini dengan skeptis. Oleg Polyskin (65) mengungkapkan keraguannya. "Ini tidak akan berlangsung lama, hanya satu setengah hari, jadi mungkin akan bertahan. Tetapi bahkan jika Anda pergi ke gereja, tidak ada jaminan 100 persen bahwa semuanya akan damai. Anda tidak boleh mempercayai Putin dan pemerintahannya," harapnya.

Hal senada disampaikan Sofiia Liapina (16) yang menambahkan, "Akan menyenangkan jika tidak terjadi apa pun malam ini dan tenang, tanpa peringatan serangan udara. Tetapi kita tidak bisa tahu, karena tetangga kita tidak bisa dipercaya."

Sebagai informasi, kedua belah pihak juga pernah mengadakan gencatan senjata untuk Paskah Ortodoks tahun lalu. Namun, saat itu keduanya juga saling menuduh melakukan ratusan pelanggaran. Di tengah ketegangan terkait gencatan senjata, Rusia dan Ukraina sempat bertukar 175 tawanan perang pada Sabtu (11/4).

Perundingan yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik empat tahun ini telah terhenti dalam beberapa minggu terakhir karena perang di Timur Tengah. Bahkan sebelum perang di Timur Tengah, kemajuan menuju kesepakatan damai di Ukraina berjalan lambat karena perbedaan pendapat mengenai masalah wilayah.

Ukraina mengusulkan pembekuan konflik di sepanjang garis depan saat ini. Namun, Rusia menolak dengan mengatakan bahwa mereka ingin Ukraina menyerahkan semua wilayah di Donetsk yang saat ini dikuasainya, sebuah tuntutan yang menurut Kyiv tidak dapat diterima.