Golkar Minta Anggaran Makan Bergizi Gratis Tidak Ambil Dana Pendidikan

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Fraksi Golkar di MPR RI mendesak agar alokasi dana program Makan Bergizi Gratis tidak memotong anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Permintaan ini disampaikan langsung oleh Ketua Fraksi Golkar di MPR RI Melchias Markus Mekeng di Bintaro, Tangerang Selatan, pada Senin (25/5/2026), dilansir dari Detikcom.

Langkah penolakan penggunaan dana pendidikan ini diikuti dengan desakan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk segera memformulasikan alternatif pendanaan lain demi menjamin keberlangsungan program usungan pemerintah tersebut.

"Jadi, kalau memang program MBG terus dilaksanakan, ya, kami berharap Menteri Keuangan cari sumber pendanaan yang lain, agar program MBG tetap berjalan," kata Mekeng, Ketua Fraksi Golkar di MPR RI.

Sikap tegas ini akan ditindaklanjuti secara resmi oleh Fraksi Golkar melalui pengiriman surat kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberikan perlindungan penuh terhadap dana pendidikan.

"Ya, mudah-mudahan surat kami bisa diterima dan ditanggapi dengan positif," jelas Mekeng.

Meskipun mengkritisi kebijakan penganggaran, Fraksi Golkar tetap memberikan dukungan terhadap substansi program Makan Bergizi Gratis yang dinilai memberikan dampak positif bagi pemenuhan gizi anak-anak di Indonesia.

"Kami setuju dengan program MBG. Karena program MBG itu manfaatnya banyak, tapi kami juga concern terhadap pendidikan karena pendidikan itu ya dari prasarana, dari guru, segala macam itu sekarang menjadi persoalan dasar juga," imbuh Mekeng.

Ia juga memberikan penegasan mengenai aturan konstitusi dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang telah mengunci porsi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN sehingga tidak boleh dialihkan untuk fungsi lain.

"Sudah ada itu 20% itu untuk pendidikan dan tidak bisa diarti-luaskan dengan berbagai macam yang ada kaitan dengan pendidikan," ungkap Mekeng.

Menurut Mekeng, cakupan anggaran pendidikan harus difokuskan secara spesifik pada pemenuhan kebutuhan fasilitas sekolah, guru, serta murid sebagai satu kesatuan sistem belajar-mengajar.

"Kalau pendidikan itu, kan, ada murid, ada guru, ada sekolahnya dan fasilitas-facilitating, itu satu rangkaian, begitu," imbuh Mekeng.