Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold, mengkritik kebijakan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang dinilai merugikan Timnas Indonesia. Dalam wawancara yang tayang pada Selasa, 5 Mei 2026, Arnold menyoroti ketimpangan jadwal dan perubahan lokasi pertandingan yang dianggap menguntungkan tuan rumah.
Graham Arnold mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakkonsistenan AFC mengenai pemilihan tempat pertandingan babak play-off. Berdasarkan penjelasan awal yang ia terima, lokasi pertandingan seharusnya berada di tempat netral, namun keputusan akhir justru menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai penyelenggara grup.
"Ketika saya menghadiri undian di awal kampanye bersama Australia, kami diberi tahu bahwa playoff akan diadakan di tempat netral," ungkap Arnold.
Juru taktik asal Australia ini menjelaskan bahwa berdasarkan peringkat FIFA per 13 Juni 2025, Qatar dan Irak seharusnya berhak menjadi tuan rumah jika merujuk pada aturan tim peringkat tertinggi. Namun, penetapan Arab Saudi sebagai tuan rumah Grup B memicu tanda tanya besar bagi dirinya.
"Saya pikir itu bagus, kami akan menjadi tuan rumah, karena Qatar berada di peringkat 53, Irak 57, dan Arab Saudi 58. Namun entah bagaimana, Arab Saudi justru menjadi tuan rumah grup tersebut," tutur Arnold.
Arnold menambahkan bahwa perubahan aturan ini secara mendadak baru muncul saat proses pengundian resmi dilaksanakan oleh pihak otoritas terkait.
"Tapi ketika pengundian resmi dilakukan, tiba-tiba aturannya berubah. Dua tim berperingkat tertinggi akan menjadi tuan rumah," katanya.
Selain masalah lokasi, Arnold menyoroti kerugian besar yang dialami Indonesia akibat jadwal kedatangan pemain yang sangat mepet dengan hari pertandingan. Kondisi fisik pemain skuad Garuda dianggap tidak ideal karena minimnya waktu pemulihan dibandingkan dengan tim tuan rumah.
"I feel very sorry for Indonesia in our group because that playoff situation was really unfair. They had to play in Saudi Arabia and Qatar," ucap pelatih 62 tahun itu sebagaimana dilansir dari Kompas.com.
Arnold membandingkan waktu istirahat yang didapat anak asuhnya dengan Arab Saudi setelah menghadapi Indonesia pada hari Sabtu. Ia merasa disparitas waktu pemulihan tersebut menciptakan persaingan yang tidak sehat di dalam grup.
"While we played Indonesia on Saturday and beat them. On the other hand, Saudi Arabia had six or seven days' rest, whereas we had to back up and play them only two or three days after our game against Indonesia," jelas dia.
Dalam keterangan tambahan melalui kanal YouTube The Howie Games, Arnold juga memberikan empati mendalam kepada tim Indonesia yang harus berpindah-pindah lokasi dalam waktu singkat.
"Play-off berlangsung di Saudi dan Qatar, saya harus bilang saya benar-benar merasa sangat kasihan pada Indonesia di grup kami. Hal itu karena benar-benar tidak adil," ujar Arnold.
Mantan pelatih Australia tersebut mengakui bahwa tugas membawa Irak ke putaran final merupakan tantangan berat mengingat sejarah panjang tim tersebut yang sempat absen lama dari kompetisi tertinggi dunia.
"Saya mungkin tidak akan pernah menerima pekerjaan ini kalau mereka sudah lolos dalam 10 tahun terakhir. Fakta bahwa mereka belum lolos selama 40 tahun menunjukkan betapa besarnya tantangan yang akan saya hadapi," ujar Graham Arnold.
Meski mengkritik jalannya kompetisi, Arnold akhirnya berhasil membawa Irak finis di posisi kedua Grup B dengan empat poin. Kepastian Irak melaju ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko didapat setelah mengalahkan Bolivia 2-1 pada laga final playoff antarkonfederasi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·