Gunung Semeru yang terletak di Jawa Timur kembali mengalami erupsi sebanyak tiga kali pada Minggu (17/5/2026) pagi. Gunung api dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut meluncurkan kolom abu vulkanik hingga setinggi 700 meter dari puncak gunung.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom, rangkaian letusan ini teramati sejak dini hari. Petugas pos pengamatan mencatat aktivitas vulkanik pertama yang memuntahkan material abu berintensitas sedang hingga tebal ke arah utara.
"Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.37 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak atau 4.176 mdpl," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Yadi Yuliandi.
Aktivitas vulkanik tersebut terekam melalui alat seismograf dengan getaran amplitudo maksimum 22 mm. Setelah letusan pertama berdurasi 189 detik itu, pos pengamatan kembali mendeteksi adanya aktivitas erupsi lanjutan beberapa jam kemudian.
"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 118 detik," tutur Yadi Yuliandi.
Erupsi kedua tersebut terjadi tepat pada pukul 07.44 WIB dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Hanya berselang dua menit kemudian atau pukul 07.46 WIB, Gunung Semeru kembali meletus untuk ketiga kalinya dengan tinggi kolom letusan mencapai 700 meter di atas puncak.
Saat ini, tingkat aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih bertahan pada status Level III atau Siaga. Atas kondisi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan zona merah dan melarang segala bentuk aktivitas masyarakat di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.
Pembatasan juga berlaku pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena adanya ancaman perluasan awan panas serta aliran lahar yang dapat mencapai jarak 17 kilometer dari puncak gunung.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," ujar Yadi Yuliandi.
Pihak berwenang meminta warga setempat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap segala potensi bencana lanjutan. Bahaya sekunder berupa runtuhan batu, awan panas, hingga guguran lava sewaktu-waktu dapat terjadi di sepanjang jalur aliran sungai yang berhulu di puncak.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ujar Yadi Yuliandi.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·