Liputan6.com, Yogyakarta - Bayangkan harga cabai yang hari ini Rp120.000 per kilogram, besok terjun bebas menjadi Rp10.000. Itulah realita pahit yang dihadapi jutaan petani Indonesia setiap musim panen. Mereka bekerja keras dari subuh, tapi hasilnya justru habis ditelan mekanisme pasar yang tidak berpihak. Masalahnya bukan karena mereka malas atau tidak cerdas. Masalahnya adalah cara pandang yang terlalu sempit terhadap bisnis pertanian, yang hanya fokus pada tanam, rawat, panen, lalu jual ke tengkulak.
Pandangan itulah yang membuat rantai nilai pertanian selalu terputus di titik yang sama, di mana petani selalu menjadi pihak yang paling banyak bekerja namun paling sedikit menikmati hasilnya. Saat panen raya tiba, semua orang menjual komoditas yang sama dalam waktu yang sama, sehingga hukum ekonomi pun bekerja tanpa ampun, di mana supply berlebih, harga jatuh, petani merugi.
Di sinilah Rejo Farm Sociopreneur Integrated Farming hadir dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Didirikan oleh Dimas Christy Kusuma Putra di Dusun Rejodani, Sariharjo, Ngaklik, Sleman, Rejo Farm membuktikan bahwa pertanian sejatinya adalah sebuah bisnis komprehensif yang membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu. Artikel ini mengupas dua angle inspiratif dari sang founder yang bisa mengubah cara pandang Anda tentang pertanian.
Pertanian sebagai Bisnis Komprehensif
Petani konvensional Indonesia umumnya mewarisi satu pola pikir yang turun-temurun sejak zaman Belanda, yakni tanam padi, jagung, cabai, terong, lalu jual. Pola ini sederhana, tapi menjebak. Ketika semua petani menanam komoditas yang sama dalam musim yang sama, pasar dibanjiri produk serupa dan harga pun kolaps. Tidak ada yang salah dengan menanam cabai. Yang bermasalah adalah ketika cabai menjadi satu-satunya strategi bisnis.
Rejo Farm membangun konsep yang membagi bisnis pertanian menjadi tiga pilar utama. Pilar pertama adalah praproduksi, yakni membuat pupuk organik padat dan cair dari bahan-bahan lokal seperti kotoran sapi, log jamur, dan limbah organik lainnya. Dengan menguasai praproduksi, mereka menekan biaya sekaligus meningkatkan kualitas tanah secara berkelanjutan.
Pilar kedua adalah produksi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan terukur. Setiap proses budidaya, mulai dari pemilihan bibit hingga perawatan harian, didokumentasikan sehingga kualitas hasil panen bisa distandarisasi. Inilah yang membedakan Rejo Farm dari kebun biasa.
Pilar ketiga adalah pascaproduks. Inilah sesungguhnya tempat nilai tambah yang terbesar diciptakan. Rejo Farm mengembangkan diversifikasi produk, membangun pasar sendiri yang menembus langsung ke hotel, restoran, dan konsumen akhir, serta merintis pengolahan hasil panen menjadi produk jadi bernilai tinggi. Model integrated farming seperti inilah yang selama ini absen dari lanskap pertanian Indonesia.
Ambil contoh pepaya. Buah ini lazimnya dijual murah di pasar tradisional dan sering tidak laku. Namun Rejo Farm menemukan bahwa getahnya mengandung senyawa papain, enzim anti-radang yang sangat efektif untuk terapi jerawat dan bernilai tinggi sebagai bahan baku skincare. Satu tetes papain bisa jauh lebih mahal dari satu kilogram buahnya.
Pertanian Bukan Hanya untuk Lulusan Pertanian
Salah satu temuan paling mengejutkan dari Rejo Farm adalah komposisi timnya. Di ladang yang menghijau di Rejodani itu, Anda akan mendapati bahwa yang bekerja di sana didominasi generasi Z dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Bagi Dimas, ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi. Pertanian modern di era ini terlalu kompleks untuk diserahkan kepada satu disiplin ilmu saja. Integrated farming yang sesungguhnya menuntut kolaborasi lintas keilmuan.
“Kegiatan pertanian yang komprehensif, adaptif terhadap teknologi dan keilmuan, itu tidak bisa dicapai oleh petani itu sendiri. Tapi adalah kolaborasi antar ilmu,” kata Dimas kepada repoerter Liputan6.com pada Senin (11/5/2026).
Dimas menjelaskan bagaimana urutan kolaborasi itu bekerja dalam praktik nyata. Pertama, ahli teknik merancang desain greenhouse dan sistem utilitas air sehingga cost produksi bisa ditekan semaksimal mungkin. Tanpa desain yang tepat, kebocoran kecil pada sistem irigasi pun bisa menjadi pemborosan yang signifikan dalam jangka panjang.
Selanjutnya, ahli biologi memastikan ekosistem mikro di dalam greenhouse sehat. Bakteri dan jamur yang tumbuh harus bersifat probiotik, bukan patogen yang justru merusak tanaman. Ahli kimia kemudian merumuskan nutrisi yang tepat, baik organik maupun sintetis, dengan dosis yang presisi. Baru setelah semua itu tersedia, SOP dibuat dan diserahkan kepada tim pertanian untuk dijalankan. Hasilnya dikelola oleh tim SDM, dipasarkan oleh tim marketing, dan dikemas secara kreatif oleh tim media.
Ladang Kerja yang Luas Menantimu
Lebih lanjut Dimas juga menegaskan bahwa lulusan apapun bisa berkontribusi di pertanian. Tidak harus dari Fakultas Pertanian. Lulusan teknik bisa menjadi perancang infrastruktur farm yang efisien. Lulusan kimia bisa menjadi ahli formulasi pupuk dan pestisida organik yang jauh lebih kompeten daripada petani konvensional yang belajar dari YouTube. Lulusan biologi bisa menjadi penjaga kesehatan ekosistem tanah dan tanaman.
Yang lebih menarik lagi, banyak sekali kebutuhan riset di pertanian yang belum tersentuh. Rejo Farm saat ini berkolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk meneliti penerapan nanoteknologi dalam peningkatan produktivitas tanaman, serta dengan Telkom University untuk mengembangkan teknik sterilisasi air menggunakan teknologi elektro dan sistem IoT untuk monitoring kondisi farm secara real-time.
"Jadi precision farming itu adalah bagaimana dosis itu betul-betul terkontrol dan cara cara pemberiannya juga harus efektif," kata Dimas.
Laboratorium Revolusi Pertanian
Rejo Farm bukan sekadar peternakan dan kebun, ia adalah laboratorium hidup. Dengan lahan tersebar di Rejodani, Moyudan, Kayunan, Kendal, Surabaya, hingga rencana ekspansi ke Bali dan Cianjur, Rejo Farm membuktikan bahwa model ini bisa direplikasi. Dengan perputaran uang sekitar Rp700 juta per hektar per tahun dan 300 orang yang sudah bergabung, angka-angka itu berbicara sendiri.
Yang lebih penting dari angka adalah dampak sosial yang diciptakan, yakni lapangan kerja baru bagi anak muda lokal, transfer pengetahuan pertanian modern, dan perubahan cara pandang tentang apa artinya menjadi petani. Sociopreneur di bidang pertanian bukan sekadar konsep, Rejo Farm membuktikannya hari demi hari.
Dimas tidak merendahkan petani konvensional. Ia justru mengajak mereka untuk mengubah cara berpikir. Kuncinya ada di awal, yakni identifikasi masalah yang benar.
“Identifikasi masalah yang benar itu akan memunculkan solusi yang benar. Tentukan dulu target pendapatan, hitung kelayakan, baru belajar teknis budidaya dengan serius,” Kata Dimas menyarankan.
Artinya, sebelum menanam apapun, tanyakan dulu, apakah ini untuk hobi atau profesi? Jika profesi, hitung dulu berapa penghasilan minimal yang dibutuhkan, lalu hitung mundur, berapa yang harus diproduksi, dijual ke mana, dan bagaimana caranya. Logika bisnis harus mendahului cangkul.
FAQ Tentang Pertanian
Q: Apa yang dimaksud dengan pertanian sebagai bisnis komprehensif?
A: Pertanian sebagai bisnis komprehensif berarti petani tidak hanya fokus pada produksi (tanam & panen), tetapi juga menguasai praproduksi (pembuatan pupuk, bibit unggul, infrastruktur) dan pascaproduksi (pengolahan hasil panen menjadi produk jadi, pemasaran langsung, branding). Ini adalah inti dari pendekatan integrated farming yang diterapkan Rejo Farm.
Q: Mengapa kolaborasi multidisiplin penting dalam pertanian modern?
A: Karena pertanian modern menghadapi masalah yang kompleks dan berlapis: efisiensi irigasi membutuhkan ilmu teknik, pengendalian hama alami membutuhkan ilmu biologi, peracikan pupuk yang tepat membutuhkan ilmu kimia, pengelolaan SDM membutuhkan manajemen, hingga pemasaran membutuhkan ilmu bisnis. Tidak ada satu disiplin ilmu yang cukup untuk mengelola semuanya sendiri. Kolaborasi lintas ilmu menjadikan integrated farming lebih profesional, efisien, dan menguntungkan.
Q: Lulusan jurusan apa saja yang bisa bekerja di sektor pertanian?
A: Hampir semua jurusan! Lulusan teknik (untuk desain infrastruktur dan IoT), kimia (untuk formulasi pupuk dan pestisida), biologi (untuk pengendalian hama biologis), manajemen SDM (untuk pengelolaan tim dan SOP), marketing (untuk membangun pasar), ekonomi (untuk analisis kelayakan bisnis), bahkan media dan entertain (untuk konten promosi dan agrowisata) semuanya dibutuhkan. Rejo Farm membuktikan bahwa pertanian modern adalah ladang kerja lintas disiplin.
Q: Bagaimana cara petani kecil memulai diversifikasi produk?
A: Mulai dari yang sederhana dan terjangkau: olah sebagian hasil panen menjadi produk yang lebih tahan lama, seperti keripik, abon, atau frozen food. Investasikan dalam kemasan yang menarik—packaging yang bagus bisa meningkatkan harga jual secara signifikan. Manfaatkan WhatsApp Business, Instagram, atau marketplace online untuk menjual langsung ke konsumen tanpa melalui tengkulak. Bangun reputasi merek secara perlahan, dan terus pelajari teknik pengolahan pascapanen yang sesuai dengan komoditas yang Anda hasilkan.
Q: Apa contoh sukses diversifikasi produk dari Rejo Farm?
A: Rejo Farm sedang meneliti dan mengembangkan ekstraksi papain dari getah pepaya yang bernilai tinggi sebagai anti-radang dan bahan baku skincare. Mereka juga mengembangkan produk olahan langsung seperti buah melon potong premium, lele goreng siap saji untuk katering dan hajatan, serta minuman dan kemasan kopi berkualitas. Untuk riset lebih canggih, Rejo Farm berkolaborasi dengan ITS untuk pengembangan pupuk berbasis nanoteknologi serta dengan Telkom University untuk sistem IoT dan precision farming.
Q: Bagaimana Rejo Farm mengelola limbah produksi?
A: Rejo Farm menerapkan konsep integrated farming zero waste—tidak ada yang terbuang. Limbah organik diolah menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF) yang kemudian menjadi pakan ternak. Infrastruktur bangunan mayoritas menggunakan bambu untuk menekan impor besi sekaligus menciptakan ekosistem petani bambu lokal. Ke depannya, Rejo Farm berambisi menjadi salah satu produsen BSF terbesar di Indonesia dengan kapasitas menyerap puluhan ribu ton sampah organik per hari, menciptakan lapangan kerja padat karya sekaligus memecahkan masalah lingkungan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·