Harga BBM dan Gas Industri Melonjak Akibat Konflik Geopolitik Global

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Eskalasi konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok global memicu tren kenaikan harga bahan bakar minyak, LPG, hingga LNG di berbagai negara pada Senin, 11 Mei 2026. Situasi ini mendorong perlunya langkah strategis untuk mengamankan ketersediaan energi nasional di tengah volatilitas pasar Asia yang tinggi.

Kebutuhan energi nasional menjadi prioritas utama yang harus dilindungi oleh negara di samping sektor pangan guna menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Dampak ketegangan politik internasional telah menciptakan tekanan besar pada jalur distribusi energi di berbagai belahan dunia.

"Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua, pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi, kalau ada ketegangan politik, dua hal itu amanakan," ungkap Komaidi, Direktur Eksekutif Reforminer Institute.

Lonjakan harga energi saat ini dinilai bersifat non-fundamental akibat terganggunya jalur distribusi global, terutama pada area krusial seperti Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran di tingkat konsumen sehingga harga minyak dunia terkerek melampaui nilai wajarnya.

"Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," sebut Komaidi.

Dilansir dari Detik Finance, harga LPG industri non-subsidi 50 kg di Indonesia naik sekitar 25-26 persen, dari US$ 21,9 per MMBtu menjadi US$ 28,3 per MMBtu. Secara nominal, harga per tabung melonjak dari Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta pada Mei 2026 mengikuti standar CP Aramco.

Kenaikan lebih signifikan terjadi pada sektor solar industri nonsubsidi yang mencapai 77-84 persen dengan harga berkisar Rp 26.000 hingga Rp 27.900 per liter. Penyesuaian ini mengikuti dinamika pasar global dan biaya energi internasional yang terus merangkak naik sepanjang tahun berjalan.

Indeks internasional mencatat lonjakan drastis pada Japan Korea Marker (JKM) sebesar 111 persen dan Japan Customs-Cleared Crude (JCC) sebesar 97 persen selama 2026. Hal ini menyebabkan Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 naik hingga 99 persen dibandingkan rencana awal tahun.

Komaidi menekankan bahwa penyesuaian harga energi non-subsidi seperti LNG harus segera dilakukan untuk menjaga kesehatan ekonomi domestik agar tetap rasional. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan industri energi dalam negeri tetap bertahan di tengah krisis global.

"Meskipun relatif terlambat, penyesuaian harga energi terutama non subsidi seperti LNG perlu segera dilakukan di dalam negeri. Secara ekonomi, hal ini penting dilakukan supaya LNG domestik dijaga pada tingkat yang sehat dan rasional sesuai harga keekonomian energi global," kata Komaidi.

Perbandingan Harga Gas Kawasan ASEAN 2026NegaraSektor/JenisHarga (US$ per MMBtu)
VietnamPasokan LNG Spot27,81
FilipinaHarga LNG28,50
SingapuraBulk Industri40,12
SingapuraRetail Umum47,54

Data dari PetroVietnam dan S&P Global menunjukkan bahwa negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina juga menghadapi tekanan harga serupa. Singapura bahkan mencatat harga gas retail tertinggi di kawasan yang mencapai US$ 47,54 per MMBtu guna menjaga keberlanjutan energi domestik mereka.