Harga Emas Antam Turun Rp 13 Ribu per Gram

Sedang Trending 1 jam yang lalu

HARGA emas dari PT Aneka Tambang Tbk atau emas Antam merosot pada Rabu, 27 Mei 2026 atau saat perayaan Idul Adha. Harga emas Antam hari ini turun Rp 13.000 per gram dibanding hari sebelumnya.

Berdasarkan data di laman Logam Mulia, harga emas hari ini tercatat Rp 2.785.000 per gram, lebih rendah dibandingkan dengan kemarin atau Selasa, 26 Mei 2026, yang tercatat Rp 2.798.000 per gram. Sedangkan harga emas kemarin juga merosot Rp 5 ribu dari hari sebelumnya yang tercatat Rp 2.803.000 per gram.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Harga emas mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni Rp 3.168.000 pada 29 Januari 2025. Sedangkan di bulan Mei, harga tertinggi tercatat Rp 2.859.000 per gram, yakni pada 12 Mei 2026. Adapun harga jual kembali atau buyback emas batangan Antam hari ini juga turun Rp 13 ribu menjadi Rp 2.594.000 per gram. 

Mengutip Trading Economics, harga emas dunia tercatat di atas US$ 4.500 per troi ons pada Rabu, 27 Mei 2026, setelah mengalami tekanan pada awal pekan ini. Sentimen pemicunya karena para investor tetap bersikap optimis namun tetap waspada karena Amerika Serikat dan Iran masih dapat mencapai kesepakatan damai meskipun ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. 

Di satu sisi Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz masih berlanjut. Sedangkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa kemungkinan kesepakatan akhir masih butuh beberapa hari untuk diselesaikan. 

Pada saat yang sama, militer Amerika Serikat mengatakan telah melakukan serangan pertahanan diri di selatan Iran, sementara Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak pesawat tempur F-35 dan beberapa drone setelah mereka diduga memasuki wilayah udara Iran. 

Meski demikian, harga emas tetap hampir 15 persen di bawah level pada awal konflik. Penyebabnya kekhawatiran atas guncangan inflasi yang didorong oleh energi memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama mungkin akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk waktu yang lebih lama.