Prospek kenaikan harga emas dan perak diprediksi masih berlanjut pada tahun ini menyusul tanda-tanda deeskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan kesepakatan damai muncul setelah perang berlangsung selama 69 hari, yang memicu optimisme di pasar komoditas global.
Data pasar spot pada perdagangan Kamis (7/5/2026) menunjukkan harga emas menguat 1,2 persen menjadi 4.750 dollar AS per troy ons, dilansir dari Money. Pada saat yang sama, harga perak melonjak lebih tajam sebesar 3 persen hingga mencapai posisi 79,62 dollar AS per troy ons.
Tren positif ini merupakan kelanjutan dari kinerja kuat pada 2025, di mana emas mencatatkan kenaikan 66 persen dan perak melesat hingga 135 persen. Namun, volatilitas sempat meningkat di awal 2026 akibat dinamika suku bunga global dan konflik di Timur Tengah.
CEO Metals Daily Ross Norman menjelaskan bahwa koreksi harga sebelumnya terjadi karena pasar mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga dan penguatan dollar AS. Aksi ambil untung juga marak dilakukan investor setelah emas mencapai kondisi jenuh beli.
"Kesepakatan damai menunjukkan tekanan tersebut mulai mereda. Seolah-olah rem tangan pada emas dan perak mulai dilepas," ujar Norman.
Chief Strategy Officer BNP Paribas Fortis Philippe Gijsels memandang penurunan harga yang terjadi beberapa bulan terakhir hanyalah fase konsolidasi sementara. Ia menegaskan bahwa fundamental pendukung reli logam mulia, termasuk diversifikasi cadangan devisa bank sentral dan inflasi global, tetap kokoh.
"Kami memperkirakan bull market jangka panjang emas dan perak akan berlanjut dan keduanya berpotensi mencetak rekor tertinggi baru dalam waktu yang tidak terlalu lama, bahkan mungkin tahun ini," kata Gijsels.
Gijsels menambahkan bahwa meredanya kekhawatiran perang akan mendorong kembalinya aliran modal ke sektor logam mulia.
"Ketika kabut perang mulai mereda, investor akan kembali masuk ke pasar emas dan perak," ujar Gijsels.
Sementara itu, Managing Director Solomon Global Paul Williams menyoroti keunggulan perak yang didorong oleh kebutuhan sektor teknologi hijau dan kecerdasan buatan (AI). Keketatan pasokan fisik menjadi faktor krusial yang mendukung potensi keuntungan perak dibandingkan emas.
"Pasokan perak fisik masih ketat, sementara permintaan dari teknologi hijau terus meningkat," ujar Williams.
Kebutuhan industri terhadap perak mencakup komponen panel surya, komputer, ponsel, hingga kendaraan listrik yang permintaannya diprediksi meningkat seiring perbaikan sentimen ekonomi global.
"Jika pembicaraan gagal, emas kemungkinan memimpin kenaikan awal sebagai aset lindung nilai. Tetapi pasar fisik perak yang lebih ketat membuat perak bisa mengejar dengan cepat," kata Williams.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·