Harga emas global mengalami pelemahan ke level US$ 4.689 per troy ons pada Senin, 11 Mei 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran. Penolakan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi dan ketidakpastian jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terkoreksi 0,6 persen menjadi US$ 4.689,29 per troy ons pada pukul 06.37 waktu Singapura. Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa pekan lalu di mana harga emas sempat menguat 2,18 persen dan ditutup pada posisi US$ 4.714,42 per troy ons pada Jumat, 8 Mei 2026.
Penurunan harga juga terjadi pada komoditas perak yang berada di posisi US$ 4.695,26 per troy ons menurut laporan CNBC Indonesia. Sementara itu, Bloomberg mencatat pelemahan perak sebesar 0,8 persen ke level US$ 79,67, diikuti oleh penurunan harga platinum dan paladium.
Sentimen negatif pasar muncul setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas mengenai upaya rekonsiliasi dengan Iran yang telah berlangsung selama 10 minggu. Ketegangan ini diperparah dengan insiden serangan drone pada hari Minggu yang membakar kapal kargo di lepas pantai Qatar.
"totally unacceptable." sebut Trump.
Pernyataan tersebut merujuk pada respons terbaru Iran terhadap proposal penghentian konflik yang dinilai tidak memadai oleh pihak Gedung Putih. Situasi ini memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi untuk meredam inflasi, yang pada gilirannya menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Meskipun sedang tertekan, Bisnis.com mencatat bahwa harga emas masih memiliki daya pendorong meski tidak sekuat lonjakan pada tahun 2025. Sebagai catatan historis, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada level US$ 5.418,54 per ons pada 28 Januari 2026.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen dari Amerika Serikat, China, dan Jerman yang dijadwalkan pada hari Selasa. Data tenaga kerja AS yang menunjukkan penambahan pekerja selama April memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga stabil sambil memantau risiko dampak perang terhadap ekonomi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·