Aktivitas perdagangan komoditas mencatat lonjakan nilai logam mulia secara signifikan. Nilai emas di pasar global terpantau mengalami penguatan sekitar 1 persen pada akhir sesi perdagangan Rabu (20/5/2026) waktu setempat atau Kamis (21/5/2026) pagi WIB.
Dikutip dari Money, lonjakan nilai instrumen safe haven ini terjadi seiring dengan pelemahan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta penurunan harga minyak mentah. Situasi ini dipicu oleh munculnya sentimen positif terkait potensi meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Merujuk pada data Reuters, nilai emas spot mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen yang menempatkannya pada posisi 4.531,99 dollar AS per ons. Meskipun mencatat penguatan pada akhir perdagangan, komoditas ini sempat merosot hingga menyentuh titik terendah dalam periode lebih dari tujuh pekan pada awal sesi.
Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk masa pengiriman Juni 2026 juga merangkak naik. Komoditas tersebut mencatat kenaikan tipis sebesar 0,1 persen menuju level 4.535,30 dollar AS per ons.
Peredaan tekanan di pasar obligasi menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan komoditas ini. Penurunan imbal hasil surat utang memberikan ruang bagi emas untuk bergerak ke zona hijau.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan harga emas mendapat dorongan setelah kenaikan imbal hasil obligasi AS mulai mereda.
"Kami melihat adanya jeda dari kenaikan imbal hasil obligasi yang terus berlangsung. Akibatnya, harga emas berhasil bangkit dari level terendah baru-baru ini," ujar Meger.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun dilaporkan mengalami koreksi tipis. Padahal, satu hari sebelumnya instrumen tersebut sempat meroket hingga mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Secara historis, kenaikan imbal hasil surat utang negara cenderung meningkatkan biaya peluang dalam memegang aset seperti emas. Hal ini terjadi karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil rutin berupa bunga bagi para pemegangnya.
Pengaruh Dinamika Geopolitik dan Suku Bunga
Prospek penyelesaian konflik di tingkat global turut memengaruhi arah kebijakan moneter. Harapan akan stabilitas politik di Timur Tengah dinilai mampu menahan laju agresivitas suku bunga perbankan.
Menurut Meger, prospek meredanya konflik di Timur Tengah juga menjadi sentimen positif bagi emas karena diharapkan menekan tren suku bunga tinggi.
"Segala bentuk penyelesaian perang atau dibukanya kembali Selat Hormuz akan positif bagi pasar emas karena ekspektasinya suku bunga akan turun, sehingga membantu pasar emas," kata dia.
Sementara itu, komoditas minyak mentah jenis Brent mengalami pelemahan harga. Kondisi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan bahwa konflik bersenjata dengan Iran bakal selesai dalam waktu yang sangat cepat.
Kendati demikian, para pelaku pasar dilaporkan tetap bersikap waspada dalam mencermati perkembangan negosiasi perdamaian tersebut. Hal ini disebabkan oleh potensi hambatan jalur pasokan energi di Timur Tengah yang dinilai masih terus berlangsung.
Risalah Perbankan Sentral dan Proyeksi Pasar
Di sektor kebijakan finansial, dokumen internal dari otoritas moneter tertinggi Amerika Serikat menunjukkan adanya kewaspadaan terhadap risiko makroekonomi. Komite rapat menilai konflik global dapat berdampak pada stabilitas harga domestik.
Risalah rapat Federal Reserve bulan April menunjukkan pejabat bank sentral AS memperingatkan perang AS-Iran dapat memicu inflasi dan memperkuat alasan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target 2 persen.
Walaupun instrumen investasi ini populer dimanfaatkan sebagai alat lindung nilai terhadap tekanan inflasi, daya tariknya di mata investor cenderung meredup ketika berada dalam iklim suku bunga tinggi.
Berdasarkan data statistik dari CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan adanya probabilitas sebesar 48,6 persen bagi Federal Reserve untuk mengerek suku bunga acuan pada bulan Desember mendatang.
Sedangkan untuk keputusan terdekat, tingkat peluang bagi bertahannya suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan bulan Juni mencapai angka 89,6 persen.
Pergerakan Harga Logam Mulia Lainnya
Tren positif di sektor komoditas pada hari yang sama ternyata tidak hanya dinikmati oleh emas. Sejumlah komoditas logam mulia alternatif lainnya terpantau kompak mengalami apresiasi nilai di pasar spot.
Harga perak spot tercatat mengalami lonjakan sebesar 3,1 persen yang membawa posisinya ke level 76,06 dollar AS per ons. Selain itu, harga platinum juga ikut terangkat naik sebesar 1,6 persen menuju angka 1.952,30 dollar AS per ons.
Kenaikan ini kemudian ditutup oleh performa palladium di pasar perdagangan internasional. Komoditas tersebut mencatatkan penguatan nilai sebesar 1,5 persen dan bertahan pada level 1.373,62 dollar AS per ons.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·