Harga Emas Global Naik, Pasar Sambut Baik Peluang Damai AS-Iran

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock

Harga emas menguat setelah sejumlah pejabat memberi sinyal Amerika Serikat (AS) semakin dekat mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan arus pengiriman minyak. Hal tersebut meredakan kekhawatiran terhadap inflasi.

Harga emas batangan sempat naik hingga 1,6 persen ke kisaran USD 4.580 per ons, menghapus penurunan tipis yang terjadi pekan lalu. Presiden AS Donald Trump pada Senin (25/5) mengatakan pembicaraan dengan Iran mengenai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata dan melonggarkan pembatasan pelayaran di jalur perairan strategis tersebut “berjalan dengan baik.”

Mengutip Bloomberg, harga emas spot tercatat naik 1,4 persen menjadi USD 4.570,50 per ons pada pukul 14.30 pada Senin (25/5) waktu New York. Harga perak melonjak 3,4 persen menjadi USD 78,08 per ons. Platinum dan palladium juga ikut menguat.

Harga minyak pun turun 5 persen dalam sesi perdagangan, dengan Brent turun ke bawah USD 100 per barel. Sementara itu, indeks Bloomberg Dollar Spot mengukur kekuatan dolar AS melemah 0,3 persen. Pelemahan dolar biasanya membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli global karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam mata uang dolar.

Meski demikian, analis strategi Oversea-Chinese Banking Corp, Christopher Wong, mengatakan pasar kemungkinan masih berhati-hati mengejar reli emas karena detail penting terkait program nuklir Iran masih belum jelas.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Ia juga menambahkan pasar di AS, Inggris, Hong Kong, dan Korea Selatan tutup karena libur pada Senin (25/5) sehingga likuiditas perdagangan menjadi lebih tipis.

Harga emas sendiri telah merosot sekitar 13 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Para pelaku pasar juga meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga setelah perang Iran mendorong lonjakan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi.

Pasar uang saat ini memperkirakan Federal Reserve hampir pasti mulai menaikkan suku bunga pada Desember. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Di sisi lain, investor juga mulai mencermati arah kebijakan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah resmi memimpin bank sentral AS.

video story embed

Menurut Antonio Di Giacomo dari XS.com, emas masih memiliki “fondasi yang kuat” sebagai aset safe haven di tengah konflik geopolitik. Namun, logam mulia tersebut juga menghadapi “tantangan besar” dari tingginya suku bunga, dolar AS yang masih kuat, dan ekspektasi inflasi yang tetap tinggi.

“Meski dolar AS sempat melemah tipis dalam beberapa sesi terakhir, mata uang tersebut masih didukung statusnya sebagai aset safe haven serta persepsi bahwa ekonomi AS masih lebih tangguh menghadapi guncangan energi maupun geopolitik,” tulisnya dalam catatan pada Senin (25/5).

Ia kemudian menuturkan kenaikan harga emas kemungkinan masih terbatas dan tetap rentan terhadap koreksi tajam.