Harga minyak mentah dunia jenis Brent sempat melonjak hingga 3 persen pada perdagangan Jumat (9/5), sehari setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan udara. Namun, kenaikan itu akhirnya terpangkas karena pelaku pasar berharap ada jeda konflik yang lebih panjang setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent ditutup di level USD 101,29 per barel, naik USD 1,23 atau 1,23 persen, setelah sempat melesat hingga 3 persen sepanjang sesi perdagangan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berakhir di posisi USD 95,42 per barel, naik 61 sen atau 0,64 persen.
Meski menguat pada perdagangan harian, kedua kontrak minyak tersebut tetap mencatat pelemahan mingguan lebih dari 6 persen.
“Kami masih bergerak di tempat, dan itu memang wajar,” kata Partner Again Capital, John Kilduff.
“Kami berada di ambang terobosan negosiasi atau justru di ambang pecahnya kembali konflik. Situasi seperti ini sudah sering terjadi,” lanjutnya.
Kilduff menilai pasar masih menunggu arah pasti, apakah negosiasi damai akan tercapai atau justru konflik kembali memanas. Menurut dia, ada keyakinan di pasar bahwa Iran dan AS akan mencapai kesepakatan awal sebelum melanjutkan pembicaraan tahap berikutnya.
“Ada keyakinan di pasar bahwa akan tercapai kesepakatan dan kita akan masuk ke tahap berikutnya, yakni 30 hari untuk merampungkan kesepakatan antara Iran dan AS,” ujar Kilduff.
Sepanjang perdagangan, harga minyak bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar disebut terus merespons berbagai pernyataan dan perkembangan geopolitik yang berubah cepat.
“Kami masih memainkan permainan yang digerakkan oleh berita utama,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
“Pergerakan kapal di Teluk Persia masih berlangsung sebaik mungkin dalam kondisi saat ini. Kami hanya mencoba bertahan di tengah situasi,” tambahnya.
Bentrok antara pasukan AS dan Iran dilaporkan kembali terjadi di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab juga kembali mendapat serangan ketika Washington menunggu respons Teheran atas proposal penghentian konflik yang dimulai sejak serangan udara gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis waktu setempat mengatakan gencatan senjata masih berlaku dan berupaya meredam ketegangan. Namun sehari setelahnya, Trump kembali mengultimatum Iran agar menghentikan ambisi nuklirnya.
Analis PVM Oil Associates, John Evans, mengatakan pasar masih sulit memperkirakan arah pasokan minyak sebelum ada solusi jangka panjang atas konflik tersebut.
“Seberapa cepat pasokan dari negara-negara Teluk bisa kembali normal, bagaimana kondisi persediaan saat memasuki puncak musim konsumsi bensin, dan seperti apa sanksi setelah kesepakatan tercapai, semuanya memang layak dipikirkan. Namun semua itu belum bisa dijawab sampai ada solusi jangka panjang atas konflik ini,” ujarnya.
Sementara itu, pendiri firma analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pemerintah AS terlalu optimistis terhadap peluang meredanya konflik.
“Pemerintah AS terus menjual optimisme berlebihan soal peluang meredanya konflik, dan pasar yang memang cenderung optimistis ikut mempercayainya,” kata Hari.
“Menariknya, setiap kali pasar pulih, pemulihannya selalu bertahap dan tidak sepenuhnya kembali normal, sehingga manuver-manuver semu itu setidaknya cukup berhasil,” lanjut dia.
Di sisi lain, Reuters melaporkan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS tengah menyelidiki transaksi perdagangan minyak senilai USD 7 miliar yang dilakukan menjelang pengumuman penting terkait perang Iran oleh Trump.
Mayoritas transaksi tersebut berupa posisi short atau taruhan harga minyak akan turun. Transaksi dilakukan di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) sesaat sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, gencatan senjata, atau perubahan kebijakan lain terhadap Iran yang memicu pelemahan pasar minyak.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·