Harga kargo minyak di pasar fisik mengalami penurunan tajam pada Senin, 11 Mei 2026 pukul 17.30, setelah para pembeli global memilih untuk membatasi penawaran mereka. Kondisi ini berbanding terbalik dengan lonjakan permintaan bulan lalu, meskipun akses pengiriman melalui Selat Hormuz masih mengalami penutupan akibat konflik.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelemahan harga ini mulai terlihat sejak paruh kedua April dan semakin intensif dalam sepekan terakhir. Premi untuk grade minyak utama Laut Utara yang menjadi acuan Dated Brent dilaporkan merosot hingga 90 persen dalam sebulan terakhir hingga kembali ke level sebelum perang pecah.
Kargo minyak mentah CPC dari wilayah Afrika Barat dan Mediterania untuk pengiriman segera bahkan mulai diperdagangkan dengan diskon kecil terhadap nilai patokan. Meskipun secara umum pasokan masih dianggap ketat, harga saat ini telah kembali ke kisaran normal sebelum perang Iran menghilangkan lebih dari 10 persen pasokan minyak global.
Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa sikap menahan diri dari pembeli dipicu oleh sinyal kedekatan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Para pelaku pasar khawatir membayar harga tinggi jika Selat Hormuz tiba-tiba dibuka kembali dan menyebabkan harga jatuh.
Di sisi lain, kilang minyak mulai beradaptasi dengan keterbatasan pasokan dari Timur Tengah dengan menerapkan prinsip pengiriman tepat waktu (just-in-time) serta mengurangi persediaan. Namun, harga Brent berjangka sempat melonjak di atas US$105 per barel pada hari Senin setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik.
Kepala riset di Sparta Commodities SA, Neil Crosby, memberikan analisis terkait anomali harga tersebut di tengah krisis yang sedang berlangsung.
"Pasar minyak fisik secara umum tidak memperhitungkan ketatnya pasokan yang parah," kata Neil Crosby, kepala riset di Sparta Commodities SA.
Penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi tersebut dikaitkan dengan strategi pembeli di kawasan Asia yang memilih untuk bertahan dengan stok minimal.
"Namun, hal itu sebagian disebabkan oleh pembeli di Asia yang bergantung pada impor dan bertahan dengan pasokan minyak mentah “minimal”," kata Neil Crosby, kepala riset di Sparta Commodities SA.
Pasar global saat ini memanfaatkan cadangan strategis untuk menahan dampak penutupan jalur laut utama, di mana pemerintah telah mengumumkan pelepasan cadangan dalam jumlah rekor. Selain itu, peningkatan ekspor dari Amerika Serikat dan Brasil turut membantu menyeimbangkan pasar sementara konsumsi global menurun akibat melonjaknya harga bahan bakar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·