Harga Minyak Mentah Turun Tajam Usai Iran Evaluasi Proposal Damai AS

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Anan Kaewkhammul/Shutterstock

Harga minyak mentah ditutup anjlok tajam pada Rabu (6/5), seiring Iran mengevaluasi proposal baru dari Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir 10 minggu.

Dikutip dari Bloomberg, harga minyak mentah Brent acuan turun hampir 8 persen menjadi USD 101,27 per barel, sementara West Texas Intermediate turun lebih dari 7 persen menjadi USD 95,08 per barel. Gas alam Eropa turun hingga 14 persen.

Menurut seorang sumber, jika memorandum kesepahaman diterima Iran, maka akan mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Para pedagang sangat ingin lalu lintas kembali normal melalui selat tersebut, karena penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Sumber itu mengatakan belum ada kesepakatan yang tercapai dan negosiasi rinci tentang program nuklir Irran akan dilakukan kemudian. Dalam komentarnya kepada Fox News pada Rabu (6/5), Presiden AS Donald Trump mengatakan optimistis dengan hati-hati tentang proposal tersebut, dan menyebut AS mungkin akan mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu seminggu.

“Pasar mencoba memperhitungkan kesepakatan perdamaian, tetapi itu sulit dilakukan ketika detailnya terus berubah,” kata wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial Securities Inc, Dennis Kissler.

Kabar tentang potensi terobosan yang dilaporkan sebelumnya oleh Axios muncul hanya dua hari setelah bentrokan di selat kritis tersebut mendorong harga minyak naik dan meningkatkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata AS-Iran sedang runtuh.

Trump menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengakhiri perang, yang dimulai AS bersama Israel pada akhir Februari. Pada Rabu kemarin, harga minyak dan gas menguat setelah Trump dalam unggahan di Truth Social mengatakan jika Iran tidak menyetujui proposal perdamaian AS, pengeboman akan dimulai.

Sumber mengatakan Teheran diperkirakan akan mengirimkan tanggapan terhadap proposal AS melalui mediator Pakistan dalam dua hari ke depan. Sementara Iran mengatakan jalur aman melalui Selat Hormuz akan dipastikan berdasarkan protokol baru.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach, West Palm Beach, Florida, pada Senin (23/3/2026). Foto: Saul Loeb/AFP

“Pasar minyak dan produk petroleum terus memberikan sinyal beli di semua indikator, bahkan setelah aksi jual besar-besaran pagi ini,” kata ahli strategi komoditas senior di TD Securities, Ryan McKay.

Harga minyak mentah telah naik sekitar 40 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari, memutus ratusan juta barel minyak Teluk Persia dari pasar global. Arus melalui Hormuz telah dibatasi oleh blokade ganda, dengan Teheran menghalangi pengiriman sementara AS menghentikan kapal untuk mengakses pelabuhan Iran.

Di sisi fisik, data pemerintah yang dirilis menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS terus menyusut, menambah kekhawatiran bahwa cadangan pasokan mendekati batasnya. Data persediaan AS menjadi sorotan karena pembeli luar negeri semakin bergantung pada minyak mentah AS untuk mengimbangi gangguan pada arus Timur Tengah.

Peningkatan permintaan mendorong ekspor produk minyak ke rekor tertinggi pekan lalu, didorong oleh permintaan yang kuat untuk diesel AS, menurut Badan Informasi Energi.

Menjelang pertemuan puncak Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14 dan 15 Mei, China juga telah menambahkan suaranya pada tekanan diplomatik global untuk mengakhiri konflik tersebut.

Pada pertemuan di Beijing, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk terus bernegosiasi, dan menyatakan kembalinya permusuhan tidak disarankan.

Trump telah berulang kali mengatakan kemajuan signifikan telah dicapai dalam negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang, namun tidak ada hasil substansial yang muncul. Pada Selasa (5/5), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut posisi AS tidak realistis, dengan mengatakan Teheran pada akhirnya tidak akan tunduk pada tuntutan sepihak AS.

Penutupan efektif Selat Hormuz telah memutus seperlima pasokan gas alam cair dunia. Meskipun sebagian besar bahan bakar tersebut biasanya dikirim ke Asia, gangguan ini mengancam akan meningkatkan persaingan untuk pasokan gas alam cair global yang terbatas karena Eropa mengisi kembali persediaan gas sebelum musim dingin mendatang.