Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan kenaikan harga pangan global sebesar 2,4 persen pada Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan ini mengakhiri tren penurunan harga yang sempat terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Food Price Index (FFPI) yang dilansir dari Money pada Selasa (14/4/2026), indeks harga pangan global menyentuh angka 128,5 poin. Kenaikan terjadi pada hampir seluruh komoditas utama, dengan pertumbuhan paling signifikan terlihat pada sektor minyak nabati dan gula.
Indeks harga minyak nabati melonjak 5,1 persen karena meningkatnya permintaan bahan baku biofuel seiring kenaikan harga minyak mentah. Sementara itu, komoditas gula mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,2 persen secara bulanan akibat perubahan alokasi tebu di Brasil.
"Kenaikan harga sejak konflik dimulai relatif kecil, terutama didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi dan diimbangi oleh pasokan sereal global yang melimpah," kata Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO. Namun, ia memperingatkan adanya risiko tekanan biaya input jika konflik berlanjut.
Sektor serealia turut mengalami kenaikan sebesar 1,5 persen yang didorong oleh lonjakan harga gandum global sebesar 4,3 persen. Hal ini dipicu oleh kondisi cuaca buruk di Amerika Serikat dan peningkatan biaya pupuk di Australia yang mengancam luas tanam petani.
Berbeda dengan komoditas lainnya, harga beras justru mengalami penurunan sekitar 3 persen pada periode yang sama. Pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan musim panen di berbagai wilayah produksi serta pergerakan nilai tukar terhadap dollar AS.
FAO menekankan bahwa kenaikan biaya energi akibat gangguan di jalur perdagangan seperti Selat Hormuz berdampak langsung pada biaya produksi pangan. Kondisi ini mencakup peningkatan biaya transportasi, pengolahan, hingga harga pupuk di tingkat global.
Laporan dari UN Trade and Development (UNCTAD) juga mengonfirmasi bahwa ketegangan geopolitik menciptakan ketidakpastian distribusi. Meskipun produksi serealia diprediksi mencapai rekor baru, risiko inflasi tetap membayangi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·