Hashim Sebut Kondisi Ekonomi RI Masih Kuat, Tetap Dilirik Investor Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Prasasti Luncheon Talk. Foto: Dok. Prasasti

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Kondisi itu membuat Indonesia tetap dilirik investor global, meski sejumlah tantangan struktural masih perlu diperkuat.

Pernyataan tersebut disampaikan Hashim saat acara Prasasti Luncheon Talk, yang digelar di Ballroom Pullman Jakarta, Rabu (22/4). Selain Hashim yang menjabat sebagai Board of Advisors Prasasti, acara tersebut juga dihadiri oleh Board of Advisors Prasasti sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, Mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda, dan Mantan Ketua DK Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad.

Hashim menyampaikan kondisi global saat ini merupakan salah satu yang terberat dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis sebelumnya. Namun, situasi tersebut justru memvalidasi pentingnya strategi ketahanan yang telah lama ditekankan pemerintah, khususnya dalam sektor pangan dan energi.

“Program utama yang menjadi fokus adalah food security, energy security, dan water security,” kata Hashim melalui keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di sektor pangan, Hashim mengungkapkan Indonesia telah mencatat capaian signifikan dengan peningkatan cadangan beras nasional. Saat ini, stok beras yang dikelola pemerintah telah mencapai sekitar 4 juta ton dan diproyeksikan segera meningkat menjadi 5 juta ton.

“Apapun yang terjadi, Indonesia aman untuk satu tahun ini, bahkan mungkin dua tahun,” ujar Hashim.

Di sektor energi, Hashim mengakui Indonesia masih memiliki kebergantungan terhadap impor. Namun, upaya diplomasi tingkat tinggi dinilai telah memberikan hasil konkret dalam menjaga pasokan energi nasional.

“Kita mendapatkan suplai sekitar 100 juta barrel dari Rusia, dan ini akan mulai dikirim dalam waktu dekat. Kita juga memiliki opsi tambahan hingga sekitar 50 juta barrel,” ungkap Hashim.

Ketua Dewan Penasehat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo usai acara Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia yang diselenggarakan Kadin di Ayana Midplaza, Jakarta pada Selasa (10/2/2026). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Lebih lanjut, Hashim menilai kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam posisi yang kuat, didukung oleh surplus neraca perdagangan serta kemandirian pembiayaan.

“Kita memiliki surplus sekitar USD 27 miliar dan tidak perlu bergantung pada fasilitas pembiayaan eksternal,” tegas Hashim.

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana, mengatakan pemerintah memastikan stabilitas makro tetap terjaga sebagai fondasi utama pertumbuhan. Menurutnya, disiplin fiskal tetap menjadi prioritas.

“Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,” terang Eka.

Eka menambahkan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk tekanan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.

“Kita sudah punya ancang-ancang dan persiapan untuk menghadapi berbagai skenario,” kata Eka.

Meski menghadapi tekanan eksternal, pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan jangka menengah, dengan fokus pada penguatan struktur ekonomi dan peningkatan kualitas belanja negara.

Sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas tersebut, investor mulai melihat adanya perbaikan fundamental yang mendorong optimisme terhadap prospek Indonesia.

Managing Partner Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana, menyampaikan faktor pertumbuhan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi para investor global.

“Dalam enam bulan terakhir, trajectory dari growth itu sudah membaik. Money supply meningkat, interest rate turun, bond yield juga sudah turun, bond price naik, dan equity juga membaik,” kata Arief.

Dari sisi valuasi, Indonesia juga dinilai relatif menarik dibandingkan negara lain di kawasan. Dengan rasio price-to-earnings (PER) yang lebih rendah, pasar domestik masih memiliki ruang kenaikan.

“Indonesia memiliki PE Ratio di 11,8x. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia ini murah,” kata Arief.

Meski demikian, investor tetap mencermati sejumlah risiko, terutama terkait keberlanjutan pertumbuhan dan dinamika eksternal. Arief memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan pada 2026 akan lebih moderat dibandingkan proyeksi awal.

“Awalnya kita melihat sekitar 12-15 persen, tapi sekarang sekitar 7 persen,” ujar Arief.

Sejalan dengan pandangan investor tersebut, OJK terus memperkuat fondasi struktural untuk meningkatkan daya tarik investasi pasar modal dalam negeri. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, menjelaskan transparansi menjadi fokus utama reformasi pasar modal.

“Salah satu isu yang disampaikan adalah adanya gap antara informasi yang tersedia dengan kebutuhan investor di pasar modal, khususnya dari sisi availability of information dan transparansi,” ujarnya.

OJK terus mendorong akselerasi inisiatif-inisiatif reformasi di pasar modal domestik. “Langkah reformasi ini kami arahkan pada tiga hal utama, yaitu transparansi, enforcement dan governance, serta pengembangan instrumen agar pasar kita lebih kompetitif,” kata Henry.

Sejumlah langkah konkret telah dilakukan, termasuk penyediaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, peningkatan granularitas klasifikasi investor, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), serta peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15 persen.

FTSE Russell telah memberikan catatan positif dan mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, dan tidak memasukkan Indonesia dalam Watch List. Sementara, MSCI dalam pengumuman terbarunya mengapresiasi langkah-langkah penguatan transparansi yang dilakukan oleh otoritas pasar modal Indonesia.