Jakarta -
Belakangan ini viral konsumen komplain sosis berubah warna jadi kehitaman dan diduga busuk. Namun, pihak brand meminta unggahan komplain dihapus.
Seorang konsumen mengaku kecewa setelah menemukan sosis siap makan merek So Nice dalam kondisi tak layak konsumsi. Keluhan itu viral usai diunggah akun Instagram @novasn_ pada Selasa (6/5).
Dalam unggahannya, ia memperlihatkan bagian ujung sosis yang berubah warna menjadi kehitaman. Padahal, sosis tersebut sudah sempat dimakan, sebelum ia menyadari kondisinya tidak normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kecewa banget ini sosis kesukaan gue dari kecil, ini apaan tolong jelaskan @sonice_id @sogoodid mana udah kemakan lagi," tulisnya dalam unggahan tersebut.
Tak lama setelah unggahan itu viral, pihak So Good selaku perusahaan yang memproduksi sosis So Nice menghubungi konsumen melalui direct message (DM) Instagram.
Tampilan sosis yang berubah warna dan diduga basi. Foto: Instagram/@novasn_
Namun, respons produsen justru menuai sorotan karena meminta unggahan komplain itu dihapus terlebih dahulu.
"Hai teman So Good, kami mohon kerjasamanya untuk menghapus mention yang berada di Instagram So Nice, Instagram So Good dan Instagram Real Good karena produk tersebut belum kami lakukan pengecekan. Terima kasih," bunyi pesan DM yang dibagikan ulang oleh Nova selaku konsumen.
Permintaan itu langsung ditolak oleh Nova. Ia mengaku trauma dan merasa jijik setelah mengetahui sosis yang dimakannya berubah warna.
"Gak, gak mau dihapus karena jadi trauma, enek banget," balas konsumen tersebut.
Heboh Sosis Diduga Basi Beredar, Konsumen Ngaku 'Diteror' usai Komplain Foto: Instagram/@novasn_
Tak berhenti sampai di situ, pihak brand juga disebut terus menerus menghubungi konsumen melalui WhatsApp hingga beberapa kali melakukan panggilan telepon.
Nova mengaku merasa terganggu karena belum mendapat permintaan maaf, tetapi justru diminta menghapus unggahan komplainnya.
Ia juga mengungkap sempat ditelepon melalui Instagram oleh akun @sonice_id. "Jujur ngerasa keganggu banget. Udah dibilang ganggu malah telepon terus-terusan," tulisnya lagi.
Unggahan ini kemudian ramai dikomentari netizen. Banyak yang menyayangkan cara penanganan komplain dari pihak brand dan meminta perusahaan lebih fokus pada penjelasan kualitas produk serta tanggung jawab kepada konsumen.
Pihak brand meminta untuk menghapus unggahan berisi komplain. Foto: Instagram/@novasn_
"Lucu banget, 'Belum melakukan pengecekan' kok udah diedariinnnn," tulis netizen.
"Padahal gak usah bertele-tele tinggal 'Mohon maaf atas kelalaian tim produksi, ini sebagai pelajar kami kedepan agar lebih baik lagi dan memperketat proses produksi agar hal yang sama tidak terulang lagi di kemudian hari'," tulis netizen lainnya.
detikFood telah mencoba menghubungi kedua pihak untuk meminta pernyataan lebih lanjut, tetapi hingga saat ini masih belum mendapat respons.
Unggahan ini sekaligus menyoroti risiko dari mengonsumsi sosis kemasan yang basi. Meski sudah memakai pengawet, sosis kemasan tetap bisa basi dan rusak.
Hal ini karena pengawet hanya membantu memperlambat pertumbuhan bakteri, bukan menghentikannya sepenuhnya.
Menurut Food Standards Agency (FSA) Inggris, sosis umumnya memakai nitrit dan nitrat untuk menjaga warna serta menghambat bakteri berbahaya, lapor Food.gov (9/12/25).
Ilustrasi sosis. Foto: Getty Images/iStockphoto/Elena Rui
Namun, efektivitas pengawet tetap bergantung pada suhu penyimpanan, kondisi kemasan, dan masa kedaluwarsa.
Jika rantai pendingin terganggu saat distribusi atau penyimpanan, bakteri tetap bisa berkembang biak di dalam produk. Kemasan yang bocor atau rusak juga membuat udara dan mikroba masuk sehingga sosis lebih cepat basi.
Badan pengawas makanan Amerika Serikat (USDA), menjelaskan daging olahan seperti sosis harus disimpan dalam suhu dingin agar tetap aman dikonsumsi, lapor fsis.usda.gov (31/7/20).
Tanda sosis sudah rusak biasanya terlihat dari perubahan warna menjadi kusam atau kehitaman, tekstur berlendir, serta aroma asam menyengat.
Jika tetap dimakan, kondisi ini bisa memicu mual, muntah, diare, hingga gangguan pencernaan akibat kontaminasi bakteri.
(raf/adr)
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·