Sebuah helikopter Airbus Helicopter EC 130 T2 dengan registrasi PK-CFX milik PT Matthew Air Nusantara jatuh di kawasan hutan Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada Kamis (16/4). Insiden tragis tersebut mengakibatkan delapan orang di dalam helikopter, termasuk seorang warga negara Malaysia, dinyatakan meninggal dunia.
Perjalanan udara tersebut direncanakan menempuh rute dari Helipad PT Cipta Mahkota (CMA) menuju Helipad PT Graha Agro Nusantara 1 (GAN1). Dilansir dari Detikcom, pesawat mulai lepas landas pada pukul 07.37 WIB sebelum akhirnya mengirimkan sinyal darurat sekitar satu jam kemudian.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, menjelaskan kronologi hilangnya kontak pesawat yang terpantau melalui sistem navigasi udara. Setelah sinyal darurat terdeteksi, otoritas penerbangan segera menerbitkan notifikasi situasi bahaya guna memulai prosedur pencarian.
"Helikopter tersebut diawaki oleh 1 orang pilot, yaitu Capt Marindra Wibowo, serta membawa 1 orang engineer Harun Arasyid dan 6 penumpang," kata Lukman.
Lukman menambahkan bahwa tim pencari telah mencapai titik koordinat kecelakaan untuk melakukan evakuasi. Seluruh penumpang dipastikan tidak ada yang selamat dalam peristiwa di hutan Kalimantan tersebut.
"Tim SAR gabungan telah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat dan berdasarkan informasi di lapangan, seluruh penumpang dan awak pesawat dinyatakan meninggal dunia," ujarnya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini tengah melakukan investigasi mendalam terhadap reruntuhan helikopter di lokasi kejadian. Namun, helikopter ini diketahui tidak memiliki perangkat perekam suara kokpit atau data penerbangan seperti pada pesawat jet komersial.
"Dalam 30 hari kami akan mengeluarkan laporan awal yang berisi data faktual," kata Dian Saputra, Investigator KNKT.
Dian menyebut timnya akan memeriksa catatan performa mesin guna menentukan variabel teknis sebelum kecelakaan terjadi. Hingga saat ini, belum ada simpulan resmi mengenai pemicu jatuhnya armada milik Matthew Air Nusantara tersebut.
"Untuk penyebabnya saat ini belum bisa kami pastikan. Kami masih menunggu hasil analisis," tuturnya.
Dian menekankan bahwa tujuan utama dari rangkaian investigasi ini adalah untuk perbaikan standar keamanan transportasi udara di masa depan. Proses ini diperkirakan akan memakan waktu hingga satu tahun untuk mencapai hasil akhir.
"Investigasi ini difokuskan pada aspek keselamatan penerbangan, dengan tujuan menghasilkan rekomendasi guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang," katanya.
Kombes Pol dr J Ginting selaku Kepala RS Bhayangkara Polda Kalbar mengonfirmasi bahwa identitas seluruh korban telah berhasil divalidasi oleh tim medis forensik. Jenazah saat ini sedang dipersiapkan untuk proses penyerahan kepada pihak keluarga masing-masing.
"Tim identifikasi Rumah Sakit Bhayangkara dan Biddokkes sudah bekerja maksimal. Dari delapan penumpang helikopter yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak, seluruhnya sudah berhasil diidentifikasi," ujar Ginting.
Pihak kepolisian masih melakukan sinkronisasi data medis terakhir untuk memastikan tidak ada kekeliruan sebelum pemulangan jenazah. Daftar korban mencakup pilot, teknisi, serta enam penumpang yang terdiri dari warga lokal dan warga asing.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·