Hercules Datangi Rumah Ahmad Bahar Terkait Persoalan Dugaan Teror

Sedang Trending 47 menit yang lalu

Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshal atau Hercules mendatangi kediaman penulis Ahmad Bahar di wilayah Depok, Jawa Barat, pada Senin, 25 Mei 2026. Langkah tersebut diambil guna mencari jalan keluar atas perselisihan yang terjadi di antara keduanya.

Persoalan ini mencuat setelah adanya tudingan mengenai tindakan teror lewat pesan singkat. Berdasarkan laporan Okezone, situasi memanas setelah kedua belah pihak saling melayangkan argumen terkait permasalahan keluarga dan pernyataan politik.

“Jika ingin diselesaikan secara baik-baik, mari kita selesaikan. Jika ingin dibawa ke ranah hukum, silakan bawa ke ranah hukum. Bila perlu, besok (hari ini red) saya akan mendatangi rumahnya karena dia sendiri yang meminta saya untuk datang,” kata Hercules, Minggu (24/5/2026).

Kedatangan tersebut juga dimaksudkan untuk menanggapi ajakan diskusi dari pihak Ahmad Bahar. Hercules menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi secara langsung demi meluruskan masalah.

“Saya akan datang ke rumahnya untuk berdebat. Mengingat dia adalah seorang penulis, biarlah dia berdebat dengan 'preman' ini,” ujar dia.

Menurut penjelasan Hercules, pangkal persoalan bermula dari pesan singkat via WhatsApp yang dikirimkan oleh Ahmad Bahar kepada istrinya. Pesan tersebut dinilai mengandung unsur ancaman.

“Saya perlu tegaskan bahwa yang memulai semua ini adalah saudara Ahmad Bahar. Ia meneror istri saya melalui pesan WhatsApp di ponsel istri saya,” ucap Hercules.

Pihak Hercules mengklaim mengantongi sejumlah bukti digital terkait tindakan pengancaman tersebut. Bukti itu disebut merekam aktivitas Ahmad Bahar di fasilitas publik.

“Ada bukti percakapannya, bahkan ada videonya yang jelas menunjukkan wajahnya saat ia berada di Stasiun Pegaden. Ia mencari-cari saya, mengancam akan mendatangi rumah saya, dan mengirim pesan kepada istri saya dengan kata-kata kasar seperti: 'Mana suami kamu? Suami kamu itu (kata kasar),'” sambung dia.

Kejadian tersebut sempat membuat pihak keluarga terkejut karena dikirim oleh nomor yang tidak dikenal. Ketegangan ini diduga dipicu oleh komentar Hercules sebelumnya mengenai pernyataan tokoh nasional Amien Rais yang menyoroti Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya.

“Ternyata, buntut dari masalah ini adalah pernyataan saya saat acara ulang tahun GRIB mengenai Pak Amien Rais. Namun perlu diingat, saya tidak mengancam atau menjelek-jelekkan Pak Amien Rais. Saya hanya sebatas mengingatkan,” ujar dia.

Hercules menambahkan bahwa dirinya menghormati posisi Amien Rais sebagai tokoh bangsa. Ia menegaskan kritiknya hanya berupa saran agar penyampaian pendapat tetap objektif.

“Beliau adalah seorang negarawan, tokoh panutan Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua MPR. Saya hanya menyarankan agar jika berbicara atau mengkritik, jangan sampai mendiskriminasi atau memvonis orang besar dengan tuduhan yang tidak berdasar. Pak Amien adalah milik kita semua, milik rakyat Indonesia,” lanjut dia.

Pihak GRIB Jaya menilai Ahmad Bahar telah memutarbalikkan fakta yang ada di lapangan. Kejadian ini diakui memberikan dampak psikologis terhadap anak dan istri Hercules.

“Tiba-tiba muncul Ahmad Bahar yang mengancam saya dengan kata-kata kasar dan meneror istri saya. Istri saya trauma, bahkan anak-anak saya juga terkena dampaknya. Namun sekarang, ia memutarbalikkan fakta seolah-olah dia adalah korban dan kami adalah pelakunya. Ahmad Bahar ini sangat licik,” katanya.

Sebelumnya, perwakilan Hercules sempat mendatangi rumah Ahmad Bahar dengan melibatkan pengurus RT/RW serta Babinsa setempat. Pertemuan itu dilakukan bersama anak dari Ahmad Bahar untuk meminta klarifikasi.

“Saya membawa anak itu ke sini untuk klarifikasi baik-baik. Saya tanya kepadanya, 'Kenapa bapakmu mencari-cari saya dan menghina saya?' Saya juga bertanya bagaimana mereka bisa mendapatkan nomor ponsel istri saya, karena hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya Blocks,” imbuhnya.

Hercules membantah adanya tuduhan intimidasi fisik maupun penodongan senjata api saat menemui anak Ahmad Bahar. Ia menegaskan bahwa proses klarifikasi berjalan secara persuasif dan humanis.

“Di sini ada HTML lima anggota GRIB perempuan yang menemani. Saat ia mengaku pusing dan flu, kami carikan obat Panadol dan memberinya makan karena ia belum makan,” katanya.

Setelah berkomunikasi dengan pihak Polres Metro Depok, anak Ahmad Bahar kemudian diantarkan ke kantor polisi. Langkah ini diambil karena Ahmad Bahar diketahui sudah berada di sana untuk menyelesaikan masalah.

“Karena ayahnya sudah berada di Polres Depok, maka Ketua RW beserta tim pengacara kami mengantarkan anak tersebut ke Polres Depok untuk bertemu ayahnya agar masalah ini bisa diklarifikasi dan diselesaikan,” jelas dia.

Meski sempat tercapai kesepakatan damai di Polres Metro Depok, persoalan ini kembali bergulir. Pihak Ahmad Rais dilaporkan membawa kasus ini ke lembaga hukum dan komisi hak asasi manusia.

“Kami kira masalah sudah selesai setelah ada pertemuan dan permintaan maaf. Namun, ternyata mereka justru melaporkan kami ke LBH Muhammadiyah, Komnas HAM, dan Polda Metro Jaya dengan narasi seolah-olah mereka adalah korban,” pungkasnya.