Hujan Meteor Lyrids Bakal Sambangi Indonesia 23 April, Catat Waktunya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi hujan meteor Foto: Flicker/Jeff Sullivan

Hujan meteor Lyrid diprediksi akan sambangi langit Indonesia pada Kamis (23/4) dini hari. Fenomena ini bisa disaksikan langsung dengan mata telanjang jika kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan, hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu AS. Di Indonesia, fenomena ini akan terjadi pada langit malam Kamis (23/4). Dalam periode tersebut, pengamat bisa melihat sekitar 10 hingga 20 meteor per jam melintas di langit musim semi.

Fenomena ini dapat disaksikan dari berbagai belahan dunia, namun pengamatan terbaik berada di wilayah belahan Bumi utara. Kabar baiknya, bulan sabit yang redup tidak akan mengganggu pemandangan, karena sudah terbenam sebelum hujan meteor mencapai puncaknya.

“Hujan meteor Lyrids bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis 23 April sampai sebelum matahari terbit. Ada sekitar 10 hingga 20 meteor per jam dari arah rasi Lyra di langit utara,” ujar Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur puing-puing yang ditinggalkan oleh benda langit seperti komet atau asteroid. Saat serpihan tersebut memasuki atmosfer Bumi, mereka akan memanas dan terbakar, menghasilkan garis cahaya terang yang sering disebut sebagai bintang jatuh.

Meski disebut hujan meteor, sebagian besar fenomena ini sebenarnya berasal dari sisa-sisa komet. Untuk hujan meteor Lyrid, sumbernya adalah komet bernama Thatcher.

Ilustrasi Komet. Foto: Jurik Peter/shutterstock

Maria Valdes, peneliti meteorit dari School of the Art Institute of Chicago, menjelaskan bahwa komet tersebut hanya bisa dilihat dari Bumi setiap 415 tahun sekali.

“Kita hanya bisa melihat kometnya secara langsung sekali dalam 415 tahun. Namun setiap tahun, kita melewati partikel-partikel yang ditinggalkannya pada waktu yang hampir sama,” ujarnya.

Hujan meteor Lyrid merupakan salah satu fenomena tertua yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Catatan pengamatannya sudah ada sejak lebih dari 2.500 tahun lalu. Di luar periode hujan meteor, sebenarnya beberapa meteor acak tetap bisa terlihat setiap malam. Namun pada waktu tertentu dalam setahun, jumlahnya meningkat sehingga menciptakan pertunjukan langit yang lebih spektakuler.

Bagi yang ingin menyaksikan hujan meteor ini, disarankan untuk keluar rumah setelah tengah malam dan menjauh dari polusi cahaya seperti lampu kota atau gedung tinggi. Mata juga memerlukan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk beradaptasi dengan gelapnya langit malam. Oleh karena itu, sebaiknya hindari melihat layar ponsel agar penglihatan tetap optimal.

Hujan meteor Lyrid tahunan terlihat di Nettleden, Hertfordshire, Inggris, Rabu (22/4) malam. Foto: Reuters/Matthew Childs

“Pengamatan cukup dengan mata tanpa alat. Kalau menggunakan teleskop medan pandangnya jadi sempit, sulit mengikuti arah meteor. Untuk pengamatan yang baik, cari lokasi yang jauh dari polusi cahaya atau minimal lampu luar dimatikan,” kata Thomas kepada kumparan, Rabu (21/4).

Untuk kenyamanan, pengamat bisa membawa kursi santai atau kantong tidur. Kesabaran juga diperlukan karena meteor tidak selalu muncul secara berurutan. Nantinya, meteor terlihat seperti garis cahaya yang bergerak cepat di langit.

Setelah Lyrid, fenomena hujan meteor berikutnya yang patut ditunggu adalah Eta Aquarids yang diperkirakan terjadi pada awal Mei. Hujan meteor ini berasal dari sisa-sisa komet Halley.

Fenomena langit seperti ini menjadi momen langka yang sayang untuk dilewatkan, terutama bagi pecinta astronomi maupun masyarakat umum yang ingin menikmati keindahan langit malam.