Pasar keuangan Indonesia mencatatkan performa positif dengan penguatan serentak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026). Sentimen ini dipicu oleh harapan meredanya konflik di Timur Tengah serta data tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat.
IHSG mengakhiri sesi di level 7.174,32 setelah mengalami kenaikan sebesar 1,15 persen. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 361 saham menguat, sementara nilai transaksi harian menembus angka Rp22,59 triliun dengan volume mencapai 39,55 miliar saham.
Sektor teknologi menjadi motor utama kenaikan dengan lonjakan 3,88 persen, disusul oleh sektor finansial yang tumbuh 3,28 persen. Kapitalisasi pasar modal Indonesia pada hari tersebut tercatat mencapai angka Rp12.782 triliun meski investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp76,39 miliar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memberikan proyeksi mengenai arah pergerakan indeks dalam kajiannya di Jakarta.
"Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menguji level 7.150- 7.200," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.
Sejalan dengan bursa saham, mata uang rupiah terapresiasi 0,29 persen ke level Rp17.330 per dolar AS berdasarkan data Refinitiv. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar global setelah munculnya sinyal progres perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang mengurangi permintaan aset aman.
Pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas moneter melalui rencana penerbitan Panda Bonds atau instrumen utang dalam mata uang Yuan. Selain itu, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam direvisi untuk mewajibkan penempatan dana di bank BUMN mulai Juni 2026.
Ross Mayfield dari Baird memberikan pandangan mengenai pergeseran sentimen investor yang sangat cepat di pasar global.
"Kita sangat cepat berubah dari situasi 'semua orang bearish' menjadi 'wah, semua orang bullish lagi,'" kata Ross Mayfield, strategist investasi di Baird.
Mayfield menambahkan bahwa momentum perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan dan laporan keuangan yang solid turut mendorong gairah pasar.
"Pasar mungkin sudah terlalu jenuh beli menjelang periode musiman yang biasanya lebih lemah, tetapi itu hanya gangguan kecil, bukan hambatan besar. Pasar saat ini seperti sedang menuju skenario melt-up, kecuali ada kejadian tak terduga." imbuh Ross Mayfield, strategist investasi di Baird.
Sementara itu, bursa Wall Street justru ditutup melemah pada Jumat dini hari waktu Indonesia akibat aksi ambil untung pada saham teknologi raksasa. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mulai mendingin dengan jenis Brent berada di level 100,06 dolar AS per barel.
20 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·