Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka merosot tajam sebesar 1,60 persen ke level 6.749,20 pada perdagangan Rabu (13/5) pagi. Penurunan sebanyak 109,70 poin ini menempatkan bursa saham domestik sebagai indeks dengan performa terlemah di pasar Asia menurut data RTI.
Koreksi signifikan pada IHSG terjadi sesaat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil tinjauan indeks terbarunya. Dalam laporan tersebut, terdapat enam emiten yang keluar dari daftar indeks global dan 13 emiten lainnya yang dikeluarkan dari indeks kapitalisasi kecil atau small cap.
Hingga sesi awal perdagangan ini, tercatat sebanyak 324 saham bergerak melemah, sementara 190 saham menguat dan 183 saham lainnya tidak mengalami perubahan posisi. Pelemahan ini juga diikuti oleh indeks LQ45 yang terkoreksi 5,85 poin atau 0,87 persen ke posisi 663.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pelaku pasar modal domestik tengah mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan arah suku bunga The Fed. Selain faktor eksternal tersebut, hasil tinjauan indeks MSCI menjadi variabel penting yang mengatur arus modal asing di bursa saham Indonesia.
"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.815 dan resistans..." kata Herditya Wicaksana, Analis teknikal MNC Sekuritas.
Kondisi pasar modal yang tertekan selaras dengan pelemahan nilai tukar rupiah di pasar valuta asing. Pada pukul 09:00 WIB, kurs rupiah terpantau merosot 8,50 poin atau 0,05 persen menjadi Rp 17.537 per dolar AS.
Berbeda dengan IHSG yang anjlok, bursa di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi sebagaimana dirinci dalam tabel berikut:
| Nikkei | Jepang | +157 | +0,25% | 62.899 |
| Hang Seng | Hong Kong | -43,94 | -0,17% | 26.303 |
| Shanghai | China | -5,12 | -0,12% | 4.209 |
| Strait Times | Singapura | +27 | +0,55% | 4.973 |
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·