INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan hingga ke level 6.765,54 pada perdagangan hari ini. Namun hingga penutupan, IHSG bertahan di 6.858,9 atau turun 0,68 persen dari level 6.905,62 saat pembukaan tadi pagi.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor. “Serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG,” katanya, pada Selasa, 12 Mei 2026, dikutip dari Antara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pada awal tahun, mata uang rupiah tercatat pada level Rp 16.691 per dolar AS. Kemudian, melemah 4,82 persen hingga level Rp 17.495 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
Faktor lain, kata Ratna, di antaranya kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara tenor 10 tahun sebesar 10 basis poin ke level 6,72 persen yang menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Ini disebabkan kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran pelebaran defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Di Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah naik menjelang rilis data inflasi. Sementara di Inggris, yield obligasi pemerintah naik ke level tertinggi sejak 2008 di tengah tekanan terhadap Perdana Menteri Inggris untuk mundur dari jabatannya.
IHSG tercatat turun 20,68 persen dari awal tahun 2026 di level 8.646,94 dan sempat berada di level tertinggi 9.134,7. Penurunan dimulai dari sentimen penilaian MSCI terhadap sejumlah emiten yang melantai di bursa, lalu disusul oleh lembaga-lembaga lainnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·