Indeks saham unggulan Inggris FTSE 100 bergerak naik tipis 36 poin ke level 10.479 pada Jumat (22/5/2026) pagi di tengah harapan kesepakatan damai Timur Tengah. Penguatan pasar saham London ini terjadi di saat sentimen risiko global masih goyah akibat data domestik yang suram dan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari Yahoo Finance, indeks FTSE 100 sebelumnya ditutup mendatar dengan kenaikan tipis 0,1 persen di level 10.443,47 pada Kamis (21/5/2026), sedangkan indeks lapis kedua FTSE 250 menguat 0,5 persen. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 2,5 persen menjadi 105,11 dolar AS per barel, yang memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi berkepanjangan.
Data domestik Inggris menunjukkan tekanan ekonomi yang signifikan, di mana aktivitas bisnis mengalami penurunan paling meluas dalam setahun terakhir akibat dampak perang dan ketidakpastian politik. Berdasarkan data Konfederasi Industri Inggris (CBI), pesanan pabrik pada Mei 2026 terkontraksi pada laju tercepat sejak September 2020, sementara penjualan ritel April turun 1,3 persen dan utang pemerintah membengkak menjadi 24,3 miliar poundsterling.
Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics, Paul Dales memberikan catatan terkait kondisi inflasi di tengah rilis data ekonomi tersebut.
"Angka-angka ini... memberikan beberapa dukungan tentatif terhadap bukti lain yang menunjukkan bahwa kondisi untuk periode inflasi tinggi yang panjang tidak ada pada tempatnya," kata Paul Dales, Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics.
Di sisi lain, pasar keuangan memproyeksikan adanya deeskalasi di Timur Tengah dan pertumbuhan pendapatan emiten yang didorong oleh sektor kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral Inggris (BoE) menjelang pertemuan mendatang.
Analis dari Saxo UK, Neil Wilson memberikan pandangannya mengenai ruang gerak fiskal pemerintah dan arah kebijakan suku bunga.
"Ruang gerak semakin menyempit karena imbal hasil obligasi berada di level tertinggi dalam beberapa dekade, menegaskan kemacetan yang dihadapi pemerintah - siapa pun yang memimpinnya," kata Neil Wilson, Analis Saxo UK.
Kemajuan resolusi konflik menjadi faktor krusial bagi kebijakan moneter Inggris selanjutnya.
"Kemajuan menuju penyelesaian Hormuz sebelum pertemuan Bank Sentral Inggris bulan Juli sekarang tampaknya menjadi kunci untuk menghindari kenaikan suku bunga - bulan Juni sekarang sebagian besar tidak mungkin terjadi setelah cetakan inflasi CPI minggu ini keluar dengan lembut," kata Neil Wilson, Analis Saxo UK.
Para pelaku pasar saat ini masih memantau perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran.
"Para pedagang berharap adanya kesepakatan antara AS dan Iran. Meskipun Pemimpin Tertinggi Iran dilaporkan menolak tuntutan untuk mengeluarkan uranium yang diperkaya dari negara itu, Teheran mengatakan proposal terbaru dari Washington telah membantu mempersempit perbedaan antara kedua belah pihak, sementara Presiden Trump mengatakan dia akan siap menunggu “beberapa hari” untuk sebuah tanggapan," kata Neil Wilson, Analis Saxo UK.
12 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·