India Perketat Aturan Sensor, Satiris Jadi Sasaran Kritik Modi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Pemerintah India semakin memperketat regulasi konten di platform media sosial, menargetkan para satiris, kartunis, dan komedian yang mengkritik Perdana Menteri Narendra Modi. Penindakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpuasan publik, terutama setelah pemerintah dinilai lamban merespons dampak konflik Israel-Iran terhadap ekonomi domestik, seperti diberitakan pada Sabtu (12/4/2026).

Langkah sensor ini mencakup pemblokiran akun dan penghapusan postingan di platform besar seperti X dan Meta, atas dasar permintaan hukum dari otoritas India. Sejumlah jurnalis independen, satiris populer, hingga legislator oposisi telah mengalami pemblokiran akun.

Prateek Waghre, seorang peneliti kebijakan internet dari Tech Global Institute, menyatakan bahwa perintah pemblokiran sering kali datang dari kepolisian dan kementerian federal, dengan sebagian besar pengguna tidak diberitahu alasan spesifik konten mereka diblokir. "Ini benar-benar hal yang mengkritik pemerintah," ujar Waghre.

Aturan baru yang diberlakukan tahun lalu telah mempersingkat batas waktu penghapusan konten oleh perusahaan media sosial dari 36 jam menjadi hanya tiga jam. Akash Karmakar, pengacara spesialis hukum teknologi di New Delhi, menilai tenggat waktu tiga jam ini paling agresif di dunia dan berpotensi disalahgunakan.

Dia menambahkan bahwa peluang pengguna untuk mendapatkan keringanan pengadilan atas perintah pemblokiran dalam waktu tiga jam adalah nihil. Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi, X, maupun Meta belum memberikan tanggapan terkait permintaan wawancara.

Salah satu kasus terjadi pada Prateek Sharma, pemilik akun satir Dr Nimo Yadav di X. Akunnya diblokir pada bulan Maret setelah pemerintah India menuduh postingannya menggambarkan Modi "dengan selera buruk."

Meski demikian, Pengadilan Tinggi Delhi pada Senin lalu memerintahkan X untuk mengaktifkan kembali akun Sharma, sambil tetap memblokir postingan spesifik yang dianggap melanggar. "Pilih badut, harapkan sirkus," tulis Sharma dalam salah satu postingan yang menjadi sorotan.

Gelombang kritik satir terhadap Modi ini sebagian merupakan reaksi atas "pembuatan mitos" tanpa henti oleh para pendukungnya selama 12 tahun kepemimpinannya. Sunil Sharma, satiris populer yang dikenal dengan nama samaran Rofl Gandhi, berpendapat bahwa generasi muda usia 22-25 tahun tidak lagi menganggap Modi relevan.

Ia menuturkan, "Orang-orang kini menyadari bahwa mitos tentang aura besar di kancah internasional itu sebagian besar hanyalah buatan media." Kapil Komireddi, penulis buku "Malevolent Republic: A Short History of the New India", menambahkan bahwa banyak orang melampiaskan frustrasi kepada sosok yang selalu mengklaim keberhasilan.

Selain itu, fenomena "media Godi"—istilah untuk media yang dianggap tidak kritis dan berpihak pada pemerintah—menjadi ciri khas lanskap media India. YouTuber Purav Jha bahkan membuat parodi lagu Bollywood "All Is Well" menjadi "All Izz Hell," yang menyindir korupsi, masalah literasi, dan peran saluran berita.

Meski menghadapi risiko penangkapan, kasus hukum panjang, doxxing, bahkan ancaman kematian, banyak satiris tetap tidak gentar. Prateek Sharma menegaskan komitmennya: "Saya akan terus melakukan semua yang saya bisa dalam batas hak-hak saya." Baginya, lelucon harus terus berlanjut, baik dalam bentuk tulisan, meme, maupun lagu.