Peluang ini menjadi salah satu poin penting dalam diskusi bilateral bersama Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, di sela-sela Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia yang berlangsung pada 13-17 April di Washington, DC.
Menkeu Purbaya menegaskan bahwa hubungan ekonomi kedua negara berada dalam tren yang sangat baik.
“China adalah partner dagang terbesar kita, jadi pada pembicaraan itu hasilnya sangat positif,” ujar Purbaya saat memberikan keterangan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa 21 April 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mengungkapkan rencana untuk menerbitkan Panda Bond (obligasi berdenominasi Yuan) di pasar China.
Langkah ini diambil karena pasar keuangan China menawarkan tingkat bunga yang sangat kompetitif, yakni di kisaran 2,3 persen. Dengan bunga yang lebih rendah, Indonesia berharap dapat menekan biaya modal secara keseluruhan.
Sebagai bentuk kerja sama dua arah, Indonesia pun memberikan lampu hijau bagi China untuk melakukan hal serupa di pasar Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan akses baru bagi investor lokal untuk memiliki instrumen surat utang China dan memperluas kolaborasi pembiayaan antara Jakarta dan Beijing.
Opsi pendanaan dari China ini ternyata juga menjadi "senjata" diplomasi ekonomi saat berhadapan dengan investor di Amerika Serikat. Purbaya menyampaikan informasi mengenai alternatif pembiayaan murah ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak terpaku pada satu sumber pendanaan saja.
Strategi ini terbukti efektif dalam memperkuat posisi tawar Indonesia. Hasilnya, terjadi peningkatan incoming bid secara signifikan dari para investor, yang mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap fleksibilitas strategi pembiayaan negara. 
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·