21 Mei 2026 15.03 WIB • 2 menit

Indonesia Jadi Rumah 13 Spesies Kuda Laut, Bukti Laut RI Masih Kaya
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas laut yang sangat tinggi. Salah satu kelompok biota yang menjadi perhatian peneliti adalah kuda laut. Berdasarkan data Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN, saat ini terdapat 13 spesies kuda laut yang telah teridentifikasi di perairan Indonesia. Namun, jumlah ini belum bersifat final.
Peneliti Masayu Rahmia Anwar Putri menegaskan bahwa temuan tersebut masih bisa berkembang seiring riset lanjutan. Ia menyampaikan, “Di Indonesia ada 13 spesies kuda laut, tapi itu saat ini. Seiring berjalannya waktu bisa terus bertambah.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa wilayah laut Indonesia masih menyimpan potensi spesies yang belum terdokumentasi secara lengkap.
Selain jumlah spesies yang beragam, kondisi populasi kuda laut di Indonesia juga menjadi perhatian serius. Beberapa spesies telah masuk dalam kategori keterancaman global. Hal ini mencakup status critically endangered, endangered, hingga vulnerable.
Masayu menjelaskan kondisi tersebut secara langsung, “Untuk kuda laut saat ini, khususnya yang ada di Indonesia, ada yang berstatus critically endangered, endangered, dan vulnerable.” Status ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap populasi kuda laut tidak hanya terjadi di tingkat lokal, tetapi juga global.
Minimnya Data dan Tantangan Pengelolaan
Salah satu tantangan utama dalam konservasi kuda laut adalah kurangnya data yang lengkap mengenai pemanfaatan dan perdagangan. Banyak aktivitas penangkapan yang tidak tercatat secara resmi, sehingga menyulitkan ilmuwan dalam memetakan kondisi populasi di alam.
Masayu menekankan dampak dari kondisi tersebut dengan menyatakan, “Kalau pemanfaatan dan perdagangan tidak dilaporkan, kita tidak mengetahui kondisi populasi sebenarnya.” Situasi ini juga berdampak pada efektivitas kebijakan pengelolaan dan konservasi yang berbasis data ilmiah.
Ancaman Kerusakan Habitat Pesisir
Selain masalah data, kerusakan habitat menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan kuda laut. Ekosistem seperti padang lamun, makroalga, dan terumbu karang merupakan tempat hidup utama bagi spesies ini. Kuda laut sangat bergantung pada struktur habitat tersebut karena tidak memiliki kemampuan berenang yang kuat.
Masayu menjelaskan kondisi ini secara sederhana, “Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup.” Kerusakan lingkungan pesisir akibat aktivitas manusia maupun perubahan ekosistem memperbesar risiko penurunan populasi kuda laut di alam.
Keunikan Biologi Kuda Laut
Kuda laut juga dikenal memiliki karakter reproduksi yang unik dibandingkan banyak spesies ikan lainnya. Pada proses perkembangbiakan, betina memindahkan telur ke kantong khusus yang terdapat pada tubuh jantan. Di dalam kantong tersebut, embrio berkembang hingga siap dilahirkan.
Masayu menjelaskan proses ini, “Di dalam kantong itu, embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan.” Proses ini berlangsung selama sekitar satu hingga dua bulan dan menjadi salah satu keunikan biologis yang banyak diteliti oleh ilmuwan kelautan.
Upaya Konservasi dan Keterlibatan Masyarakat
Upaya pelestarian kuda laut di Indonesia melibatkan kerja sama antara KKP dan BRIN. Kolaborasi ini mencakup penyusunan kuota pemanfaatan, pengaturan perdagangan, hingga penelitian untuk mendukung budidaya berkelanjutan.
Namun, Masayu menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Ia menyampaikan, “Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya.” Oleh karena itu, partisipasi masyarakat pesisir menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan populasi kuda laut.
Dengan keterlibatan semua pihak, diharapkan pengelolaan kuda laut di Indonesia dapat berjalan lebih efektif dan mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian di alam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor
Terima kasih telah membaca sampai di sini
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·