Pemerintah Indonesia merealisasikan impor minyak mentah dari Rusia pada April 2026 sebagai tindak lanjut pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat pasokan energi nasional di tengah dinamika pasar global, sebagaimana dilansir dari Money.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pengiriman komoditas tersebut dijadwalkan tiba di tanah air dalam waktu dekat pada bulan ini. Selain minyak mentah, Indonesia juga berencana mengimpor liquefied petroleum gas (elpiji) dari negara tersebut.
"Kalau untuk crude mungkin bulan-bulan ini bisa (dikirim), insyaallah," ujar Bahlil, Menteri ESDM di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Meskipun pengiriman minyak mentah sudah mulai berjalan, proses impor elpiji masih memerlukan waktu tambahan. Bahlil menjelaskan bahwa tahap finalisasi saat ini sedang berlangsung agar pengiriman gas cair tersebut dapat segera menyusul.
"Elpiji masih dalam finalisasi. (Target pengirimannya) lebih cepat lebih baik," kata Bahlil, Menteri ESDM.
Terkait nilai transaksi, pemerintah belum menetapkan angka tetap karena mengikuti mekanisme pasar. Penentuan harga akhir akan ditentukan melalui proses tawar-menawar antara kedua negara dengan mempertimbangkan harga minyak dunia yang terus berubah.
"Harga pasti akan terjadi dinamis. Harga itu akan menyesuaikan dengan harga pasar dan tergantung negosiasi kita," ucap Bahlil, Menteri ESDM.
Bahlil enggan merinci besaran volume minyak mentah yang didatangkan dalam kerja sama ini. Fokus utama kementerian saat ini adalah memastikan ketersediaan energi untuk masyarakat tetap terjaga sesuai dengan instruksi presiden.
"Saya enggak bisa menjelaskan tentang volume. Yang penting saya sebagai pemerintah, atas arahan Bapak Presiden, memastikan bahwa seluruh kebutuhan kita, crude itu tersedia dan kita harus cari untuk memastikan kepentingan rakyat bisa terlayani," jelas Bahlil, Menteri ESDM.
Kesepakatan pengadaan energi ini sebelumnya telah dicapai saat kunjungan kerja ke Rusia beberapa waktu lalu. Rusia menyatakan kesiapannya untuk memasok gas bumi serta menyediakan fasilitas penyimpanan bagi Indonesia guna mendukung ketahanan energi.
"Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude untuk kita nambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan elpiji," ujar Bahlil, Menteri ESDM.
Kerja sama ini dijalankan melalui skema antarpemerintah (G2G) dan antarkorporasi (B2B). Selain fokus pada minyak dan gas, Indonesia membuka peluang kolaborasi lebih luas mencakup sektor mineral hingga penjajakan teknologi nuklir.
"Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional," ucap Bahlil, Menteri ESDM.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·