Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan, potensi tersebut muncul seiring perkembangan ekonomi kreatif dan ekonomi digital yang terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang kini mendominasi populasi DKI Jakarta.
Perkembangan platform over the top (OTT) dan konsumsi konten digital juga menjadi peluang besar bagi industri perfilman. Menurutnya, pola menonton masyarakat kini berubah karena generasi muda lebih banyak mengakses film melalui telepon genggam dan platform digital.
“Secara demografi, di DKI Jakarta majority populasinya dihuni oleh anak-anak muda, lebih dari 50 persen. Ke depan itu akan selalu berkembang. Anak-anak muda sekarang nontonnya dari hape semua, short movies semakin berkembang. Dan itu bisa dimonetisasi, menghasilkan uang. Jadi merupakan peluang industri tersendiri yang bisa menyerap sedikit banyak tenaga kerja,” jelas Iwan, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, industri film memiliki multiplier effect yang luas karena mampu menciptakan lapangan kerja di banyak sektor. Tidak hanya melibatkan sineas dan aktor, tetapi juga penulis, editor, kameramen, kru produksi, vendor, hingga sektor pendukung lainnya yang ikut bergerak bersama pertumbuhan industri tersebut.
“Industri film itu banyak memberikan kesempatan lapangan pekerjaan. Mulai dari sineas, penulis, kameramen, kru, sampai supporting system-nya luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, potensi tersebut berawal dari kajian akademik yang dilakukan Bank Indonesia DKI Jakarta melalui forum Jakarta Economic Forum tahun lalu. Forum tersebut mempertemukan akademisi, pelaku industri, media, dan generasi muda untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan terkait sektor ekonomi potensial bagi Jakarta.
“Kami menemukan bahwa endogenous growth yang sangat potensial itu salah satunya ekonomi kreatif. Dan salah satu cabang yang sangat menjanjikan adalah industri perfilman,” katanya.
Menurutnya, industri film juga memiliki karakter yang resilien karena berbasis kreativitas dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas. Selain itu, perkembangan platform digital membuat industri perfilman memiliki skalabilitas tinggi dan mampu menjangkau pasar global.
Iwan menyebut, perkembangan industri film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Produksi film domestik meningkat, pangsa pasar film nasional terus bertumbuh, dan konten lokal Indonesia semakin diminati di platform global.
“Produksi anak bangsa itu luar biasa membawa citra positif Indonesia di mata dunia. Jadi ini sesuatu yang luar biasa,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri perfilman karena didukung kekayaan budaya, sejarah, serta lokasi alam yang beragam. Menurutnya, potensi tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat industri kreatif nasional.
“Kita punya sejarah yang luar biasa, budaya yang luar biasa, tempat-tempat yang indah,” tuturnya.
Iwan menambahkan, kolaborasi antara Bank Indonesia DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini terus diperkuat untuk mengakselerasi perkembangan industri film sebagai bagian dari visi Jakarta sebagai kota sinema dunia. Gagasan tersebut juga mendapat dukungan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang dinilai memiliki pengalaman panjang di dunia perfilman.
“Kalau Pemprov DKI Jakarta sudah setuju maka kolaborasi kita itu luar biasa untuk menggerakkan industri film ini,” tandasnya. 
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·