Inflasi AS Melonjak 3,8 Persen Akibat Kenaikan Harga Bensin dan Pangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Laju inflasi tahunan Amerika Serikat mengalami percepatan signifikan menjadi 3,8 persen pada April 2026 dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak dan biaya pangan. Data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis pada Selasa (12/5/2026) menunjukkan angka ini menjadi kenaikan tercepat sejak tahun 2023.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,6 persen. Sementara itu, inflasi inti yang tidak menghitung sektor makanan dan energi meningkat 0,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau naik 2,8 persen secara tahunan.

Kenaikan indeks inti ini sebagian dipengaruhi oleh anomali statistik pada penghitungan biaya sewa properti. Kondisi tersebut merupakan dampak lanjutan dari penutupan pemerintahan atau government shutdown yang sempat terjadi pada tahun 2025.

Sektor energi menjadi kontributor utama inflasi seiring dengan pecahnya perang Iran yang mengganggu pasokan global. Laporan BLS mengungkapkan harga bensin di pasar domestik melonjak lebih dari 5 persen sepanjang bulan lalu, setelah sempat meroket hingga 21 persen pada Maret.

Peningkatan biaya hidup tidak hanya terbatas pada bahan bakar, tetapi juga merambah ke kategori kebutuhan pokok lainnya. Harga tiket pesawat dan bahan makanan tercatat mengalami kenaikan yang dapat memicu penurunan daya beli masyarakat dalam waktu dekat.

Meskipun terdapat upaya gencatan senjata dan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, tekanan ekonomi diprediksi belum akan mereda dengan cepat. Para ahli ekonomi memperkirakan biaya tinggi tetap bertahan selama proses normalisasi produksi minyak dan pemulihan jalur pengiriman berlangsung.

Sektor pertanian juga terancam oleh kenaikan harga pupuk yang berpotensi melambungkan tagihan belanja masyarakat. Perusahaan-perusahaan kemungkinan besar akan membebankan pembengkakan biaya transportasi kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa lainnya.