Inisiatif "JEDA" bantu masyarakat bijak hadapi banjir informasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Platform layanan niaga daring, Blibli, menghadirkan inisiatif bernama "JEDA" membantu masyarakat Indonesia agar dapat bijak menghadapi kondisi banjir informasi di era digital yang kini makin sulit dibendung.

"JEDA" sendiri merupakan singkatan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang yang diharapkan dapat dilakukan dalam keseharian.

"Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline," kata Head of PR Blibli Nazrya Octora di Jakarta, Selasa.

Sebagai cara Blibli berkontribusi pada ekosistem digital Indonesia, "JEDA" didukung eksistensinya oleh Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA). Selain itu perwakilan pemerintah yaitu Kementerian Komdigi dan Kementerian Perdagangan juga turut mendorong hadirnya inisiatif ini.

Inisiatif ini adalah langkah strategis untuk memperkuat perlindungan konsumen dan literasi digital, melalui microsite jeda10detik.com.

Inti dari inisiatif ini sesuai dengan maknanya adalah mendorong kebiasaan pause culture pada masyarakat agar dapat berhenti sejenak sebelum bertindak.

Baca juga: Blibli memperluas kanal pemasaran ke YouTube Shopping Affiliate

Memperkuat "JEDA", Blibli mengadakan eksperimen sosial yang berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 ini melibatkan lebih dari 158.000 warga Indonesia mengakses situs micro itu.

Hasilnya, tujuh dari 10 mengaku merasa lebih tenang setelah melakukan JEDA 10 detik, menunjukkan bahwa jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan menghadirkan kejernihan sebelum mengambil keputusan.

Sebagai bentuk literasi digital, inisiatif ini dinilai oleh perwakilan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) sebagai ide yang brilian.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan hasil eksperimen sosial "JEDA" memberikan gambaran bahwa tantangan utama era digital kini bukan hanya soal akses tepat terhadap informasi tapi bagaimana cara meresponsnya.

“Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” ungkap Boni.

Tidak hanya menghadapi banjir informasi, langkah "JEDA" juga diharapkan bisa diterapkan masyarakat dalam menjalankan transaksi digital yang kini sudah lekat dengan keseharian.

Dengan membiasakan langkah-langah tersebut harapannya tumbuh kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjadi konsumen yang kritis di era digital ini.

"JEDA diharapkan dapat mendorong konsumen untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, melainkan meluangkan waktu untuk berpikir, mengevaluasi informasi, serta memastikan keamanan dan keabsahan produk sebelum bertransaksi.Oleh karena itu, kebiasaan sederhana seperti JEDA sejenak sebelum membeli menjadi langkah preventif yang sangat penting," kata Direktur Pemberdayaan Konsumen Kementerian Perdagangan Immanuel Tarigan Sibero.

Baca juga: Empat upaya lokapasar untuk memperkuat kepercayaan konsumen

Baca juga: Blibli kenalkan "retur tanpa alasan", cara mudah konsumen tukar produk

Baca juga: Kemenkum selesaikan sengketa hak cipta Aquarius-Blibli lewat mediasi

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.