Inpex Masela Teken Perjanjian Blok Masela dengan Tiga BUMN

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Inpex Masela Ltd. resmi menandatangani kontrak komersial serta perjanjian pengembangan proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela bersama tiga badan usaha milik negara pada Rabu (20/5/2026).

Langkah strategis ini mencakup komitmen pasokan gas domestik bersama PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk selaku perwakilan BUMN.

Dilansir dari BloombergTechnoz, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa total kapasitas produksi gas dari Lapangan Abadi tersebut mencapai kisaran 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Mayoritas volume produksi, yakni sekitar 1.000 MMSCFD, sudah dialokasikan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan pasar ekspor global.

"Masela itu kan sekitar total 1.200-an [MMSCFD], masih ada spare 250 [MMSCFD] yang untuk kalau kita butuh untuk nanti kita bikin apa lagi. Akan tetapi, yang lain sudah; dalam negeri dan luar negeri sudah. 1.000-an MM per hari sudah," ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Sektor kelistrikan, industri pupuk, serta jaringan pipa gas nasional menjadi tujuan utama penyerapan pasokan gas komersial untuk kebutuhan dalam negeri tersebut.

Selain pemenuhan domestik, komoditas LNG dari Blok Masela dipastikan diekspor ke Jepang seiring adanya permintaan sebesar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa).

"Selain Jepang ada juga, ada dobel, Eni Spa, BP trader," kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Pada kesempatan di IPA Convex 2026 tersebut, SKK Migas juga menyaksikan kesepakatan head of agreement proyek LNG North Hub serta joint study agreement terkait cross-border carbon capture and storage.

Terkait proses negosiasi penjualan LNG, tahapan seleksi calon pembeli internasional kini telah mengerucut dari puluhan perusahaan menjadi tersisa lima korporasi energi global.

"Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela dari 66 calon buyer mengerucut menjadi 40, kemudian sembilan buyer, dan terakhir tinggal lima buyer yang membahas key term dengan tim teknis," ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Lima entitas yang bertahan dalam pembahasan ketentuan utama kontrak mencakup Osaka Gas, Kyushu Elektrik, Shell Trading, BP Trading, serta Chevron Trading.

Dalam pertemuan intensif di Singapura dan Tokyo, selisih penawaran harga final antara konsorsium penjual dan pihak pembeli dilaporkan semakin kompetitif.

"Perbedaan harga yang diajukan tinggal sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent," kata Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

Konsorsium penjual yang diisi Inpex, Pertamina, dan Petronas mengajukan harga di atas asumsi dokumen plan of development, sementara rata-rata tawaran pembeli berada pada kisaran 12% dari minyak Brent.

Pemerintah Indonesia kini menargetkan pencapaian keputusan investasi akhir atau final investment decision untuk proyek strategis nasional ini pada Desember 2026.