Kebijakan insentif pajak untuk kendaraan listrik berbasis nikel dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong industri otomotif nasional. Skema ini tak hanya menyasar peningkatan penjualan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat rantai industri baterai di dalam negeri.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu melihat kebijakan tersebut sebagai upaya memanfaatkan keunggulan sumber daya alam Indonesia. Terutama dalam hal cadangan nikel yang menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Menurutnya, arah kebijakan ini berpotensi menarik investasi baru di sektor baterai. Selain itu, efek berganda seperti penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah industri juga bisa ikut terdorong.
“Insentif Kemenkeu yang memberikan PPN lebih tinggi untuk kendaraan dengan baterai berbasis nikel berpotensi mendorong industri dalam negeri. Kebijakan ini memanfaatkan keunggulan cadangan nikel Indonesia untuk mempercepat hilirisasi, menarik investasi pabrik baterai, dan menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja,” ujar Yannes kepada kumparan, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kesinambungan kebijakan dan dukungan ekosistem industri. Tanpa itu, potensi yang dimiliki Indonesia tidak akan optimal.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri baterai bukan perkara mudah. Dibutuhkan teknologi tinggi serta kapasitas produksi dalam skala besar agar bisa bersaing secara global.
“Tapi keberhasilannya tidak otomatis. Produksi sel baterai membutuhkan teknologi tinggi dan skala besar, sementara Indonesia masih bergantung pada impor material lain,” katanya.
Ketergantungan terhadap material impor masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hal ini membuat industri dalam negeri belum sepenuhnya mandiri dalam memproduksi baterai kendaraan listrik.
Di sisi lain, perubahan tren global juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Perkembangan teknologi baterai terus bergerak mengikuti kebutuhan efisiensi dan biaya produksi.
“Selain itu, tren global yang bergeser ke baterai LFP yang lebih murah bisa menjadi handicap kita,” ucapnya.
Yannes menilai, baterai jenis LFP kini semakin diminati karena menawarkan harga yang lebih kompetitif. Kondisi ini berpotensi menjadi tantangan bagi strategi berbasis nikel jika tidak diantisipasi dengan tepat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pembangunan ekosistem kendaraan listrik yang menyeluruh. Mulai dari infrastruktur hingga rantai pasok harus dikembangkan secara bersamaan.
Menurutnya, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan industri menjadi kunci utama. Dengan begitu, dampak dari insentif bisa dirasakan secara lebih luas dalam jangka menengah hingga panjang.
“Jika insentif ini dibarengi dengan pengembangan infrastruktur dan rantai pasok yang lengkap, maka dampaknya terhadap industri otomotif dan baterai nasional baru bisa signifikan dalam jangka menengah hingga panjang,” pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·