Inter Milan berhasil melangkah ke babak final Coppa Italia ke-16 mereka setelah menumbangkan Como 1907 dengan skor 3-2 di Stadion San Siro pada Selasa, 21 April 2026. Sempat tertinggal dua gol lebih dulu, Nerazzurri melakukan kebangkitan dramatis melalui dua gol Hakan Calhanoglu dan satu gol penentu dari Petar Sucic.
Kekalahan ini memupus harapan Como untuk mencapai final pertama mereka sepanjang sejarah klub sejak 1986. Meski unggul melalui gol Martin Baturina dan Lucas da Cunha, tim tamu gagal mempertahankan keunggulan setelah Calhanoglu mencetak gol pada menit ke-69 dan ke-86.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, mengungkapkan rasa bangganya atas kerja keras tim yang kini berpeluang meraih gelar ganda domestik. Pencapaian ini membuat Inter menjadi tim ketiga dengan penampilan final terbanyak setelah Juventus dan Roma.
"We earned our place here with hard work, putting ourselves in a position that allows us to dream, to achieve the targets of the Serie A title and Coppa Italia trophy," tutur Chivu, dilansir dari Sport Mediaset.
Chivu juga memberikan apresiasi khusus terhadap semangat juang para pemainnya yang mampu membalikkan keadaan dalam waktu singkat. Ia menyoroti ketangguhan mental skuadnya saat menghadapi pertahanan solid lawan.
"We were aware of what Como were doing, and we managed to put a lot of goals past one of the best defensive teams in Italy," ujar Chivu.
Keberhasilan mengejar ketertinggalan dua gol dari Como merupakan kejadian kedua dalam 10 hari terakhir bagi Inter. Sebelumnya, mereka juga memenangkan laga dengan skenario serupa di kompetisi Serie A.
"These lads care so much about the good of Inter that they fight this hard to turn it around. Overturning a 2-0 deficit against Como twice in 10 days, only Inter can do that," kata Chivu.
Di sisi lain, Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, menyesali kegagalan timnya memanfaatkan peluang emas sebelum Inter memulai kebangkitan. Ia mencatat peluang krusial dari Assane Diao yang seharusnya bisa mengubah jalannya laga.
"The game changed after the goal for 2-1, but before that, we had a chance with Diao to go 3-1 up when he was one-on-one, so that could've changed it in the other direction," ungkap Fabregas.
Fabregas merefleksikan perjalanan panjang klub yang pernah bangkrut pada 2017 hingga akhirnya bisa bersaing di level tertinggi. Baginya, pencapaian saat ini adalah bukti kemajuan pesat yang telah dilakukan dalam dua setengah tahun terakhir.
"I know where we started this journey two and a half years ago. Now we are challenging to enter the Coppa Italia Final. We come close to beating Inter twice in a few weeks," tutur Fabregas.
Meskipun merasa bangga, pria asal Spanyol tersebut mengakui adanya perbedaan kelas antara kualitas skuadnya dengan Inter Milan yang merupakan finalis Liga Champions musim lalu. Fabregas menekankan pentingnya proses bagi timnya yang banyak mengandalkan pemain muda.
"It's all very nice, but I know where we come from. I knew these lads would give me a great performance after Friday's defeat to Sassuolo, and they did that," kata Fabregas.
Ia juga menambahkan bahwa melawan tim yang sudah solid selama bertahun-tahun memberikan tantangan besar bagi Como. Namun, ia merasa timnya sudah mulai mendekati level tim-tim elit Italia tersebut.
"I know where they are in the process, and we are up against a team of veterans who have been together for six or seven years, so it is maybe not easy, but you're certainly more likely to win the Scudetto with this squad," ujar Fabregas.
Pelatih Como ini menegaskan bahwa perjalanan klub masih panjang dan kekalahan ini harus diterima sebagai bagian dari perkembangan. Ia mencontohkan pelatih besar lain yang juga pernah mengalami kegagalan di awal kariernya.
"They were in the Champions League final last season, they are a winning team. We must continue our journey, it was important for me to see where we were," kata Fabregas.
Secara statistik, Como sebenarnya unggul dalam nilai harapan gol (xG) sebesar 1,65 dibandingkan Inter yang mencatat 1,43. Fabregas menilai ketajaman di area kotak penalti menjadi pembeda utama pada pertandingan malam itu.
"Are we on the same level as Inter? No, but we are close. We're just not quite as strong in the two penalty areas," tutur Fabregas.
Fabregas juga menegaskan bahwa kekecewaan ini tidak boleh merusak momentum musim mereka yang masih menyisakan beberapa pertandingan penting di Serie A. Ia menolak untuk merasa marah atas performa timnya malam ini.
"Obviously, I am not happy, but at the same time I used to open the gate of the training camp at 6.30am just two and a half years ago. Now we are here, so I might be a bit angry when we make a poor performance like the one against Sassuolo on Friday, but I cannot be angry tonight," ujar Fabregas.
Kegagalan di final bukan akhir bagi Fabregas yang percaya bahwa kesuksesan akan datang secara bertahap. Ia sangat menghargai skuad yang ia miliki saat ini meski didominasi pemain di bawah usia 23 tahun.
"I’ve won a lot and lost a lot in my career, so I know it is all part of the process. I saw a Jurgen Klopp interview where he said he lost his first seven cup finals, and he is one of the best coaches in history," kata Fabregas.
Fabregas tetap optimis dengan prospek masa depan klub dan meminta para penggemar untuk tidak melupakan sejauh mana mereka telah melangkah. Baginya, perlawanan ketat melawan Inter adalah sinyal positif.
"I could tell you a thousand stories about Como’s journey, but I will always try to stick to the message, which is we’re gradually getting there and can be thankful for having this team. If you look at the Inter squad, they are all internationals," ungkap Fabregas.
Kelelahan fisik dan absennya beberapa pemain kunci seperti Vojvoda dinilai turut mempengaruhi performa tim di babak kedua. Fabregas menutup dengan pujian atas kerja keras para pemain mudanya di lapangan.
"We were close, but I don’t think angry is the right word for how I feel right now. There are some defeats, even with good performances, so we cannot throw this whole season in the air just because we feel a little sad right now, as there are still games to go," tutur Fabregas.
Pengalaman memimpin skuad muda diakui Fabregas tidaklah mudah, namun ia merasa bangga bisa memberikan kesempatan bagi talenta-talenta baru di Eropa. Como saat ini berada di posisi kelima klasemen Serie A, tertinggal lima poin dari zona Liga Champions.
"We are up against elite teams, so they deserve credit for making it difficult for us. We were also a little short today, as Vojvoda was out, Diao could only play 20 minutes or so. I cannot tell you if it was down to individual errors or what, but it’s true we can improve in many areas, and keep growing together," ujar Fabregas.
Inter Milan kini tinggal menunggu pemenang antara semifinal lainnya untuk dihadapi di partai puncak. Keberhasilan ini menjaga peluang Inter untuk menyapu bersih trofi domestik musim ini.
"We are one of the top three or four teams in Europe who play the most Under-23 players, and that is nothing to sniff at. I was captain of Arsenal at age 21 with Arsene Wenger who used a lot of young players, I’m learning now as a coach that it is really not easy, so I can only be pleased with them," tutup Fabregas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·