Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Penasihat militer Iran, Mohsen Rezaei, memberikan peringatan keras akan menenggelamkan kapal-kapal militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Selat Hormuz pada Rabu (15/4/2026). Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas upaya blokade laut yang diperintahkan Presiden Donald Trump terhadap jalur energi global tersebut.

Ancaman penghancuran armada laut AS ini disampaikan Rezaei setelah Washington memberlakukan blokade pelabuhan Iran sejak awal pekan ini. Langkah militer AS bertujuan menekan Teheran agar bersedia membuka kembali jalur pelayaran strategis dan melanjutkan negosiasi diplomatik yang buntu.

"Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal-rudal pertama kami dan telah menciptakan bahaya besar bagi militer AS. Mereka pasti dapat terkena rudal-rudal kami dan kami dapat menghancurkan mereka," tegas Mohsen Rezaei, Penasihat Militer Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan kepada televisi pemerintah Iran seperti dilansir dari Detikcom.

Rezaei, yang merupakan mantan panglima tertinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) periode 1981-1997, juga melontarkan retorika mengenai potensi invasi darat. Ia menyebutkan bahwa setiap personel militer AS yang disandera dalam konflik darat dapat bernilai US$ 1 miliar bagi Iran.

Blokade militer yang diperintahkan Presiden Trump terjadi setelah gagalnya perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu. Upaya finalisasi gencatan senjata tersebut kandas akibat penolakan Teheran untuk menghentikan program pengayaan uranium dan ambisi nuklir mereka.

Ketegangan di Selat Hormuz telah berlangsung selama enam minggu, yang sempat diselingi dengan gencatan senjata selama dua minggu namun berakhir rapuh. Militer AS mengonfirmasi bahwa blokade laut yang mereka terapkan saat ini telah melumpuhkan seluruh aktivitas perdagangan maritim yang masuk maupun keluar dari wilayah Iran.

Meski situasi kian memanas, Rezaei menyatakan secara pribadi bahwa dirinya tidak mendukung adanya perpanjangan gencatan senjata lebih lanjut. Hingga saat ini, posisi Washington tetap bertahan pada tekanan ekonomi dan militer untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.