Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Amerika Serikat menduga Iran memanfaatkan teknologi citra satelit berbasis kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan China untuk memetakan target serangan di Timur Tengah. Kerja sama teknologi ini dinilai membantu militer Iran mengidentifikasi koordinat pangkalan Amerika Serikat secara lebih presisi, sebagaimana dilansir dari Tekno pada Kamis (16/4/2026).
Penggunaan data pemrosesan AI tersebut diduga dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk mengarahkan serangan rudal dan drone. Penilaian intelijen menunjukkan bahwa data dari platform sumber terbuka tersebut mencakup penandaan lokasi sistem pertahanan udara dan posisi pesawat tempur di fasilitas militer AS.
"Ini adalah contoh perusahaan China yang kami yakini secara jahat menyediakan intelijen melalui platform sumber terbuka yang digunakan untuk menentukan target rudal dan kendaraan udara tanpa awak (drone)," ujar sumber DIA tersebut.
Pihak DIA menyatakan bahwa penyebaran data geografis sensitif ini memiliki dampak langsung terhadap operasional militer di lapangan. Keamanan personel militer menjadi pertimbangan utama di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
"Ia menambahkan, publikasi citra satelit berbasis AI itu berpotensi membahayakan keselamatan pasukan AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah," papar sumber intelijen tersebut.
Laporan intelijen menunjuk MizarVision, perusahaan AI geospasial asal China, sebagai penyedia data yang mempublikasikan citra Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Pada 24 Februari, perusahaan tersebut mengunggah lokasi sistem Patriot, yang kemudian diikuti dengan serangan balasan Iran dalam kurun waktu kurang dari 48 jam.
Keterlibatan pihak luar dalam pendanaan aktivitas publikasi data gratis ini turut disoroti oleh pakar keamanan dari Elliott School of International Affairs, Michael Dahm. Ia menilai pola distribusi informasi tersebut tidak lazim bagi perusahaan yang murni mencari keuntungan komersial.
"Perusahaan seperti ini seharusnya berorientasi bisnis, dan memberikan sesuatu secara gratis adalah model bisnis yang buruk. Jika distribusi gratis ini berlangsung lama, saya menduga ada pihak lain yang membiayai," ujar Dahm.
Dukungan teknologi ini dianggap sebagai ancaman nyata oleh Komite Pilihan Bipartisan tentang Partai Komunis China di Kongres AS. Mereka menekankan bahwa ekosistem teknologi dari Beijing telah bertransformasi menjadi instrumen perang yang membahayakan pasukan Amerika.
"Ancaman dari ekosistem teknologi China bukan lagi sekadar teori, melainkan sudah nyata dan segera," demikian pernyataan mereka dalam sebuah posting di akun Facebook resmi.
Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri membantah keras tuduhan tersebut dan mengklaim seluruh aktivitas perusahaan dilakukan sesuai regulasi. Mereka menyebutkan bahwa pemanfaatan citra satelit sumber terbuka adalah praktik industri yang umum di seluruh dunia.
"Sejak konflik di Iran pecah, pihak-pihak tertentu berupaya mengaitkan konflik ini dengan China secara jahat demi sensasi, sesuatu yang ditentang keras oleh China," tegas Kemenlu China.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·