Iran Kritik Hubungan AS&Israel di Tengah Blokade Selat Hormuz

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai terlalu condong kepada Israel pada Selasa (14/4/2026). Pernyataan ini muncul menyusul klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai koordinasi harian dengan pejabat tinggi Gedung Putih.

Aref menyebut Gedung Putih telah berubah menjadi cabang pelapor bagi Israel dan tidak lagi bertindak sebagai entitas independen. Sentimen ini disampaikan melalui akun media sosialnya menanggapi pernyataan Netanyahu bahwa Wakil Presiden AS JD Vance rutin memberikan laporan kepadanya.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang pejabat senior pemerintah memberikan 'briefing harian' kepada kepala negara lain!" tulis Mohammad Reza Aref, Wakil Presiden Iran, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui Press TV pada Rabu (15/4/2026).

Ketegangan diplomatik ini bertepatan dengan aksi militer di perairan strategis, di mana pasukan angkatan laut Amerika Serikat dilaporkan telah mencegat delapan kapal tanker minyak Iran. Operasi pencegatan tersebut dilakukan sejak blokade laut resmi dimulai pada awal pekan ini menurut laporan Wall Street Journal.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa langkah ini bertujuan menghentikan seluruh perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar dari Iran melalui jalur laut. Meski demikian, data maritim dari Kpler menunjukkan setidaknya tiga kapal berhasil menembus blokade di Selat Hormuz pada Senin malam.

Salah satu kapal yang berhasil melintas adalah Christianna, kapal pengangkut curah berbendera Liberia, setelah membongkar muatan jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini. Namun, beberapa kapal lain yang terafiliasi dengan Iran terpaksa berbalik arah setelah blokade Washington mulai berlaku efektif pukul 14.00 GMT.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan dukungan terbuka kepada Paus Leo XIV yang sedang berselisih dengan Presiden AS Donald Trump. Pezeshkian mengecam kritik Trump terhadap Paus sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap tokoh suci yang menjunjung perdamaian.

Kondisi keamanan global semakin kompleks dengan laporan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai Korea Utara. Kepala IAEA Rafael Grossi memperingatkan adanya peningkatan sangat serius dalam kemampuan Pyongyang untuk memproduksi senjata nuklir melalui fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon.