Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Akibat Blokade Amerika Serikat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah Iran secara resmi menutup kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) sebagai langkah balasan terhadap blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat. Keputusan ini memicu eskalasi baru dalam konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas distribusi energi global.

Dilansir dari Money, penutupan ini terjadi kurang dari 24 jam setelah jalur tersebut sempat dibuka singkat. Iran memandang tindakan blokade Amerika Serikat (AS) sebagai pelanggaran hak perdagangan internasional dan bentuk tekanan ekonomi yang signifikan terhadap ekspor minyak mereka.

Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa jalur vital ini akan tetap tidak dapat diakses sampai pihak AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz sendiri merupakan pintu keluar utama bagi seperempat perdagangan minyak dunia dan sebagian besar pengiriman gas alam cair (LNG).

Spesialis pelayaran maritim dari Texas A\&M University, John-Paul Rodrigue, menyoroti kebingungan yang terjadi di antara para pelaku industri maritim akibat informasi yang tidak konsisten mengenai status jalur tersebut.

"Kapal-kapal telah berupaya melakukan transit sejak pengumuman tersebut, tetapi tampaknya banyak di antaranya yang kembali karena situasinya belum jelas," ujar Rodrigue kepada Al Jazeera.

Akademisi tersebut menambahkan bahwa ketidakjelasan informasi dari berbagai pihak menjadi kendala utama bagi operasional kapal di lapangan.

"Ada informasi yang saling bertentangan yang dikeluarkan oleh semua pihak," jelas Rodrigue.

Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan sejumlah kapal tanker mulai meninggalkan Teluk Persia dalam konvoi dengan pengawalan ketat. Meskipun ada pergerakan keluar, banyak operator tetap memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute guna menghindari risiko keamanan yang terus meningkat di kawasan tersebut.

Koresponden Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, melaporkan bahwa situasi saat ini didominasi oleh ketidakpastian yang sengaja dimainkan oleh pihak-pihak terkait.

"Ketidakpastian adalah inti permainan terkait Selat Hormuz," kata Asadi.

Asadi juga mengungkapkan bahwa tuntutan Iran melampaui sekadar isu pembukaan jalur laut, mencakup pencabutan sanksi hingga penyelesaian berkas nuklir.

"Iran menginginkan pengakhiran perang secara menyeluruh di seluruh kawasan, jaminan keamanan, pencabutan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, hubungan regional, dan di atas semua itu, berkas nuklir dan persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran," terang Asadi.

Kondisi di lapangan tetap dilaporkan sangat rapuh bagi para pelaku ekonomi internasional.

"Namun saat ini, ketidakpastian adalah hal yang utama. Situasi yang rapuh membuat sulit untuk membicarakan kemungkinan keberhasilan negosiasi di masa mendatang," pungkas Asadi.