Iran Ultimatum Amerika Serikat jika Perang Kembali Pecah

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan ultimatum keras bahwa negaranya akan membuat Amerika Serikat merasakan kehancuran apabila perang di antara kedua belah pihak kembali pecah pada Sabtu (23/5/2026), dilansir dari Detikcom melalui AFP.

Pernyataan ini muncul di tengah situasi hubungan bilateral yang kembali memanas akibat belum tercapainya kesepakatan damai. Iran menegaskan kesiapan militernya yang telah diperkuat selama masa jeda pertempuran.

"Angkatan bersenjata kami telah membangun kembali diri mereka sendiri selama periode gencatan senjata sedemikian rupa," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, Negosiator Utama Iran.

Ghalibaf menyatakan bahwa perlawanan sengit akan diberikan jika Presiden Donald Trump memilih opsi melanjutkan konflik fisik. Dampak buruk dari kelanjutan perang ini diklaim bakal melampaui kepahitan yang dirasakan AS pada fase awal pertempuran tanggal 28 Februari silam.

"Sehingga jika Trump melakukan tindakan bodoh lainnya dan memulai kembali perang, itu pasti akan lebih menghancurkan dan pahit bagi Amerika Serikat daripada pada hari pertama perang," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Negosiator Utama Iran.

Peringatan dari pihak Teheran ini disampaikan pascapertemuan dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir. Tokoh militer Pakistan tersebut memegang peran penting dalam berbagai upaya diplomasi internasional guna mengakhiri eskalasi konflik secara permanen.

Marsekal Asim Munir mendarat di Teheran sejak Jumat (22/5) untuk berdiskusi dengan jajaran pejabat tinggi Iran. Kunjungan dilakukan saat Donald Trump melontarkan ancaman pembatalan gencatan senjata rapuh yang sebenarnya telah meredam konflik sejak 8 April.

Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Munir telah menggelar pembicaraan intensif bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi hingga larut malam pada hari Jumat. Kedua pihak fokus merumuskan inisiatif diplomatik mutakhir untuk mencegah eskalasi ketegangan.

Situs resmi kepresidenan Iran turut mempublikasikan dokumentasi visual yang memperlihatkan pertemuan Munir dengan Presiden Masoud Pezeshkian pada hari Sabtu. Pertemuan berlanjut ke sesi diskusi hukum yang diprediksi berjalan detail dan panjang di kementerian luar negeri menurut stasiun penyiaran IRIB.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga dilaporkan telah melakukan kontak diplomatik dengan para menteri luar negeri dari Turki, Irak, Qatar, serta Oman. Oman diketahui memiliki rekam jejak panjang sebagai mediator konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Hingga saat ini, pihak kepemimpinan Iran menuduh Washington mengajukan tuntutan berlebihan dalam proses negosiasi. Satu putaran dialog langsung di Islamabad bulan lalu beserta diplomasi jalur belakang selama beberapa pekan masih belum berhasil membuahkan kesepakatan final.