Suhu di Jabodetabek terasa sangat panas beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkap data rekapitulasi pengamatan suhu maksimum harian yang tinggi per 25 April 2026 pukul 7 pagi sampai 26 April 2026 pukul 7 pagi.
Berdasarkan data rekapitulasi suhu maksimum harian Indonesia yang diunggah akun Instragram resmi InfoBMKG, tercatat suhu maksimum 35,6 derajat Celcius di stasiun pemantauan Balai Besar MKG Wilayah II, Ciputat, Banten.
Suhu maksimum pada periode yang sama di Stasiun Klimatologi Banten, Tangerang, tercatat 35,2 derajat Celcius.
Sementara di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok, Jakarta Utara, suhu maksimumnya tercatat 34,8 derajat Celcius.
BMKG mencatat suhu tertinggi di Indonesia terjadi di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dengan 36,8 derajat Celcius. Daerah lain yang mencatat suhu tertinggi 36,2 derajat Celcius terjadi di Palu, Sulawesi Tengah.
BMKG telah mengingatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia akibat fenomena El Nino tahun ini. Masyarakat diminta bijak dalam menggunakan sumber-sumber air yang ada. El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada pola iklim global, termasuk Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa berdasarkan data historis kejadian El Nino kuat pada 1997, 2015, dan 2023, ada wilayah yang mengalami curah hujan sangat rendah di sejumlah wilayah di Indonesia. Daerah itu meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga Papua.
“El Nino itu tidak terjadi di Indonesia, tetapi dampaknya bersifat global. Untuk Indonesia, efek utamanya adalah berkurangnya curah hujan secara signifikan, bahkan bisa memicu kekeringan,” ujar Ardhasena, pada Maret lalu.
Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengingatkan publik akan bahaya suhu panas yang sering diabaikan. Berbeda dengan bencana seperti gempa atau banjir yang memiliki simulasi rutin, Indonesia belum memiliki literasi publik yang memadai soal risiko panas ekstrem.
Dalam diskusi bertajuk "Kota Pesisir Utara Pulau Jawa" di Universitas Harkat Negeri, Tegal, pekan lalu, Elisa menilai, desain kota di Indonesia turut memperburuk situasi. Dominasi beton dan aspal membuat panas terserap di siang hari dan dilepaskan kembali pada malam hari, memperkuat efek urban heat island.
Panas bukan hanya soal cuaca, tapi juga soal desain kota, infrastruktur, dan kebijakan publik.
- Elisa Sutanudjaja, Direktur Rujak Center for Urban Studies -
Ia juga menyoroti ketimpangan yang dialami warga dalam menghadapi panas. Warga dengan akses terhadap ruang hijau, rumah layak, atau kendaraan ber-AC, tentu lebih terlindungi dibanding mereka yang tinggal di kawasan padat dengan ventilasi buruk.
Rujak Center for Urban Studies mendorong pemerintah untuk membuat Heat Action Plan (HAP) guna mengantisipasi suhu panas Indonesia yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir dan akibat perubahan iklim.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·