Jaksa perempuan Suku Mee, garam dan terang hukum di Nabire

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nabire (ANTARA) - Pagi itu, Senin, 4 Mei 2026, aula Kejaksaan Negeri Nabire dipenuhi suasana yang khidmat. Kursi-kursi tersusun rapi, para pegawai duduk dalam barisan tenang, dan prosesi pelantikan berjalan sebagaimana mestinya—tertib, resmi, tanpa banyak riuh.

Namun, di balik kesederhanaan itu, ada satu nama yang membawa cerita panjang tentang ketekunan, integritas, dan harapan. Namanya Ema Kristina Dogomo. Perempuan Papua dari suku Mee itu berdiri tegak, saat sumpah jabatan dibacakan Kepala Kejaksaan Negeri Nabire Jusak Elkana Ayomi.

Beberapa hari lagi, usianya genap 34 tahun, namun ia sudah dipercaya oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Dr Jefferdian untuk mengemban tugas sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Nabire—posisi strategis yang menangani perkara-perkara besar, termasuk korupsi.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya bagian dari rotasi jabatan. Namun, Ema telah mengukir sejarah sebagai perempuan pertama dari Suku Mee yang menjabat kasi pidsus di kejaksaan negeri.

Bagi Ema, ini adalah titik temu dari sebuah kemauan dengan perjalanan panjang kehidupan yang tidak selalu mudah.

Dari tanah sendiri

Kisah Ema tidak dimulai dari ruangan itu. Ia tumbuh besar di Nabire, di tanah yang sama, yang kini ia jaga melalui hukum.

Masa kecilnya tidak dipenuhi cerita tentang ambisi besar atau mimpi yang terlalu jauh. Ia hanya seorang anak perempuan Papua dari Suku Mee, yang setiap hari pergi ke sekolah, pulang dengan peluh, dan perlahan belajar memahami dunia.

Ayahnya, Drs Gorvanius Dogomo seorang pegawai negeri, menjadi sosok yang tidak hanya hadir sebagai orang tua, tetapi juga sebagai penjaga arah.

Ketika Ema masih duduk di bangku SMP, mamanya meninggal dunia. Sejak saat itu, rumah mereka tidak lagi sama. Namun dari kehilangan itu, lahir sesuatu yang lain: keteguhan.

Ayahnya membesarkan enam anak seorang diri. Tidak ada perlakuan khusus bagi empat anak perempuannya. Tidak ada kelonggaran hanya karena keadaan sulit. Pendidikan adalah harga mati. Itu yang selalu ditanamkan.

Alhasil, semua saudaranya menempuh pendidikan tinggi. Kakaknya sudah menjadi PNS, sedangkan keempat adiknya mendapat beasiswa, tidak hanya di Indonesia, bahkan di Jepang dan Amerika.

Tapi bagi Ema, perjalanan tidak pernah tentang siapa yang paling jauh melangkah. Baginya, yang penting adalah tetap berjalan.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.