Fenomena penggunaan “jalan tikus” sebagai jalur alternatif untuk menghindari kemacetan di ruas jalan utama semakin masif terjadi di sejumlah kota besar Indonesia. Jalur-jalur tersebut, yang berupa gang sempit hingga akses lingkungan permukiman, banyak dipilih pengendara, terutama pada jam sibuk, seperti dilansir dari Detikcom, Jumat (14/6/2026).
Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan disebut-sebut sebagai salah satu pemicu utama tren ini. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), total kendaraan di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 172,9 juta unit. Angka ini naik dari 166,5 juta unit pada tahun sebelumnya.
Sepeda motor mendominasi total kendaraan tersebut dengan jumlah lebih dari 139 juta unit pada tahun 2024. Sejak tahun 2018, penambahan unit sepeda motor telah mencapai sekitar 26 juta hingga 30 juta unit dalam kurun waktu 6-7 tahun.
Di Tangerang Selatan, tepatnya Kecamatan Setu, terdapat jalur sempit yang dijuluki “pintu Doraemon”. Akses ini bahkan dilengkapi sistem lampu lalu lintas sederhana untuk mengatur arus kendaraan dari dan menuju kawasan Serpong. Meskipun hanya cukup dilalui satu sepeda motor, jalur ini tetap ramai dimanfaatkan pengendara.
Situasi serupa juga terpantau di Jakarta. Sejumlah pengendara nekat melintasi area TPU Tanah Kusir demi menghindari kemacetan di kawasan Cipulir dan Ulujami. Sementara itu, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sepeda motor memadati jalan sempit di perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur saat jam sibuk.
Kondisi padat juga terlihat di sekitar Sungai Ciliwung. Di beberapa titik, seperti jembatan gantung yang menghubungkan permukiman warga, pengendara harus berbagi ruang dengan pejalan kaki. Praktik ini menciptakan dinamika lalu lintas yang unik, namun juga berisiko tinggi terhadap keselamatan.
Tidak jauh dari Stasiun Pasar Minggu, tepatnya di Jalan Swadaya Dalam, Pejaten Timur, terdapat tanjakan sempit yang menjadi jalur penghubung menuju Jalan Poltangan Raya. Di lokasi ini, warga setempat secara sukarela mengatur arus kendaraan siang dan malam untuk mencegah kemacetan dan potensi kecelakaan.
Namun, penggunaan jalan tikus tidak lepas dari berbagai persoalan. Selain berpotensi menimbulkan konflik antara pengendara dan warga, kondisi jalan yang sempit dan tidak dirancang untuk lalu lintas padat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi warga sekitar yang merasa tidak nyaman.
Jalan tikus, yang identik dengan ruas sempit di permukiman warga, pada beberapa segmen bahkan hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Demi keamanan, kaca cembung dipasang di tikungan menuju Tanjakan Lengkong Kampung Jawa, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta.
Pada akhirnya, jalan tikus hanya bersifat solusi sementara. Tanpa kesadaran pengendara untuk berbagi ruang dan tanpa perbaikan sistem transportasi yang lebih luas, jalur alternatif ini justru berpotensi menjadi sumber masalah baru di tengah kompleksitas kehidupan perkotaan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·