Jangan Anggap Remeh Kasus DBD pada Dewasa

Sedang Trending 2 hari yang lalu

KETUA Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sukamto Koesnoe menekankan bahwa demam berdarah dengue (DBD) juga memberikan dampak yang signifikan pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif. “Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas,” kata Sukamto dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 10 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue. Penyakit yang penyembuhannya memerlukan beberapa hari ini akhirnya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga. Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi. “Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif,” katanya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sukamto mengingatkan bahwa perlu sekali melakukan berbagai pencegahan sejak awal demi membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Pencegahan bisa dimulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. "Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” katanya.

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang lebih tinggi, turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap DBD. Selain pada kelompok dewasa, DBD pada anak pun perlu menjadi perhatian serius.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi, menekankan bahwa DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi. “Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran," kata Hartono.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41 persen, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif.

Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. "Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun,” kata Hartono.

Hartono menambahkan dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, timnya mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. "Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” katanya.

Sebelumnya dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc bekerja sama dalam upaya bersama mencegah DBD. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas. Kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan DBD di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif.

Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc. Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar DBD dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.