Saat mendengar kata wagyu, kebanyakan orang pasti langsung membayangkan daging sapi premium asal Jepang, bukan? Ya, daging ini memang dikenal punya ciri khas berupa marbling, yaitu sebaran lemak halus di antara serat daging yang bikin teksturnya juicy dan lumer di mulut.
Kini, produk berlabel wagyu semakin mudah ditemukan, mulai dari supermarket hingga menu-menu di restoran. Namun, konsumen perlu lebih teliti karena tidak semua daging berlabel wagyu benar-benar menawarkan kualitas seperti yang dibayangkan.
Dilansir dari Fox News Digital, fenomena ini bahkan banyak ditemukan di Amerika Serikat. Daging berlabel “wagyu” di sana memiliki kualitas, asal, dan nilai yang sangat beragam. Akibatnya, konsumen bisa saja membayar mahal untuk produk yang sebenarnya tidak sesuai ekspektasi.
Stephanie Hamilton, manajer merek di JBS Imports, menjelaskan bahwa banyak konsumen menganggap wagyu sebagai pengalaman makan premium dengan kelembutan luar biasa, rasa kaya, dan sensasi lumer di mulut berkat marbling yang tinggi.
Namun menurutnya, persepsi tersebut sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak orang mengira bahwa semua wagyu berasal dari Jepang, padahal sebagian besar wagyu yang dijual di Amerika Serikat justru dibesarkan secara lokal dan hanya menggunakan genetika sapi Jepang.
Hal serupa disampaikan Evan Carter, salah satu pendiri The Meat Dudes, yang menyebut bahwa istilah wagyu kini digunakan lebih luas. Menurutnya, label wagyu saat ini sering kali hanya menunjukkan bahwa daging tersebut memiliki sebagian genetika wagyu, tetapi kualitasnya bisa sangat bervariasi.
Perbedaan paling besar terletak pada asal dan genetika sapi tersebut. Wagyu Jepang asli berasal dari sapi wagyu murni yang lahir, dibesarkan, dan diproses di Jepang dengan standar produksi yang sangat ketat. Karena produksinya terbatas, wagyu asli Jepang biasanya dijual dengan harga sangat tinggi.
Sebaliknya, American wagyu adalah sapi yang dibesarkan di Amerika dengan genetika Jepang yang sering dipadukan dengan metode peternakan lokal. Hasilnya memang tetap menghasilkan marbling yang baik, tetapi kualitas dan karakteristiknya berbeda dari wagyu Jepang asli.
Masalahnya, di Amerika Serikat istilah wagyu belum diatur secara ketat. Hal ini membuat label wagyu dapat digunakan secara bebas, terutama di restoran. Chef Jesse Schenker mengatakan banyak konsumen mengasosiasikan wagyu dengan harga mahal, sehingga restoran bisa saja menaikkan harga hanya karena mencantumkan label tersebut.
"Ada banyak kesalahpahaman tentang Wagyu," kata dia yang terbiasa menyajikan Wagyu A5 Jepang asli di restorannya, FOUR, di Oyster Bay, New York.
Ia mengingatkan bahwa konsumen perlu berhati-hati karena kata “wagyu” dan “kobe beef” di menu sering digunakan sebagai strategi pemasaran, meskipun kualitas daging yang digunakan belum tentu premium.
Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak tertipu saat membeli wagyu. Salah satunya adalah memperhatikan harga. Jika harga terlalu murah untuk ukuran wagyu, konsumen patut curiga.
Schenker menyebut steak American wagyu 16 ons seharga 49 USD atau sekitar Rp 845 ribu patut dipertanyakan keasliannya, karena harga yang wajar berada di kisaran 79 USD atau sekitar Rp 1,4 juta.
Selain harga, konsumen juga disarankan memperhatikan detail marbling daging dan menanyakan asal usul produk tersebut. Carter menyebut pertanyaan sederhana seperti “dari mana asal daging ini?” dan “jenis wagyu apa yang digunakan?” bisa membantu memastikan kualitas produk.
Semakin transparan informasi yang diberikan penjual, semakin besar kemungkinan produk tersebut memang sesuai dengan labelnya. Jadi, jika restoran atau penjual bisa menjelaskan asal peternakan daging tersebut, itu menjadi tanda yang baik.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·