Juru Bicara Tegaskan Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Jokowi Bukan Emosi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Juru bicara mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, memberikan klarifikasi terkait pernyataan JK yang menyinggung peran besarnya dalam perjalanan politik Joko Widodo menjadi presiden pada Minggu (19/4/2026). Penjelasan ini disampaikan guna menanggapi tuduhan Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang menyebut JK bersikap emosional.

Husain Abdullah menegaskan bahwa nada bicara tinggi yang digunakan Jusuf Kalla bukan didasari oleh emosi yang meluap. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk meyakinkan para pendukung Joko Widodo yang selama ini membangun narasi negatif terhadap JK.

"Pak JK tidak emosional tapi dia memang menyampaikan pernyataan dalam nada tinggi, bukan karena terlalu emosi. Kenapa dalam nada tinggi, karena JK mau meyakinkan loyalis Jokowi yang sering menarasikan JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat jadi Wapres oleh Jokowi. Tidak punya rasa terima kasih kepada Jokowi," ujar Husain Abdullah dilansir dari Okezone.

Pihak JK menyatakan bahwa selama ini mantan Ketua Umum Golkar tersebut telah berupaya menahan diri. Namun, pengungkapan peran JK dianggap perlu untuk meluruskan sejarah pencalonan Jokowi dari Solo hingga ke Jakarta untuk menemui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Ini langkah awal yang membuka pintu bagi Jokowi kemudian menjadi Presiden RI. Tanpa ini, kemungkan nasibnya beda lagi," tutur Husain Abdullah.

Berdasarkan keterangan Husain, posisi JK sebagai pendamping Jokowi pada Pilpres 2014 merupakan permintaan langsung dari Megawati Soekarnoputri. Pertimbangannya adalah pengalaman JK yang dibutuhkan untuk mengimbangi elektabilitas tinggi Jokowi saat itu guna menghadapi pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

"Maka, jadilah Pak JK sebagai Wapres Jokowi," imbuh Husain Abdullah.

Husain juga menekankan bahwa keberadaan JK dalam koalisi merupakan faktor krusial yang menentukan kemenangan melawan koalisi besar di parlemen pada masa itu. Ia menampik anggapan bahwa JK memiliki utang budi kepada Joko Widodo.

"JK praktis tidak punya utang budi kepada Jokowi, mungkin justru sebaliknya. Sebab, sepanjang pemerintahan mendampingi Jokowi, dalam beberapa momen krusial JK pasang badan buat Jokowi. Bahkan, andai Jokowi yang diusung PDIP, tidak berpasangan dengan Pak JK, belum tentu bisa mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa yang 2014 didukung koalisi besar Gerindra, Golkar, PAN, PKS yang saat itu mayoritas di parlemen," pungkas Husain Abdullah.