KA Argo Bromo Mulai Ngerem 1,3 Km Sebelum Tabrak KRL, Tak Langsung Maksimal

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Petugas mengamati kondisi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkap, KA Argo Bromo sempat melakukan pengereman sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada April lalu. Pengereman dilakukan dari jarak 1,3 Km, namun hanya sedikit-sedikit.

“Masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan,” ucap Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Kamis (21/5).

“Dia taunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” tambahnya.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono saat Rapat Kerja dan RDP dengan Komisi V di DPR RI, Senayan, Kamis (21/5/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Pengereman itu, kata Soerjanto, dilakukan secara hati-hati karena mempertimbangkan keselamatan rangkaian.

"Berdasarkan hasil wawancara, KA Argo Bromo Anggrek, taktis pengereman dilakukan secara mempertimbangkan keselamatan terhadap rangkaian kereta yang dioperasikannya,” jelasnya.

Soerjanto menjelaskan, butuh jarak 900 hingga 1.000 meter untuk kereta aman berhenti dengan rem maksimal. Namun, KA Argo Bromo saat itu tak mengerem maksimal karena perintah rem sedikit-sedikit.

“Karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” tuturnya.

“Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson,” tambahnya.

Adapun kecelakaan bermula dari sebuah Taksi Green SM tertabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.

Akibat kecelakaan itu, KRL yang ditabrak KA Argo Bromo harus berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Akibatnya, 16 orang perempuan meninggal dunia.