KADIN Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Dukungan ini berkaitan dengan upaya negara dalam memitigasi berbagai tantangan nasional maupun tekanan dari lingkungan internasional.
Dilansir dari Detikcom, Bambang Soesatyo selaku Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan KADIN Indonesia menilai bahwa tatanan global saat ini sedang berada pada titik paling rawan sejak era Perang Dingin berakhir.
Ketegangan geopolitik meningkat secara simultan di berbagai wilayah kunci, mulai dari Timur Tengah hingga perselisihan di Ukraina. Fenomena ini diiringi pula dengan pergeseran struktur kekuatan dunia yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.
Sebagai negara yang berada di persimpangan jalur perdagangan utama, Indonesia memiliki posisi yang sangat krusial namun sekaligus rentan. Wilayah Selat Malaka dan Laut Natuna menjadi pusat perhatian karena menjadi titik temu kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia.
"KADIN all out bersama presiden, mengingat yang kita hadapi sekarang adalah perubahan struktur kekuatan dunia secara mendasar. Konflik yang terlihat di permukaan hanyalah gejala. Di balik itu ada perebutan pengaruh, sumber daya, dan jalur strategis yang akan menentukan siapa mengendalikan ekonomi dunia ke depan," ujar Bamsoet.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah tim internal KADIN mengikuti Strategic Response Meeting yang dipimpin oleh Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Bakrie. Pertemuan ini menyoroti perlunya kewaspadaan terhadap ancaman yang menyasar ketahanan energi dan pangan nasional.
Ancaman Krisis Energi dan Pangan
Meskipun saat ini harga minyak dunia berada pada level 60-70 dolar AS per barel, kondisi tersebut dinilai sangat fluktuatif. Gangguan keamanan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga energi dalam waktu singkat secara drastis.
Di sektor pangan, ketergantungan pada impor komoditas seperti gandum, kedelai, dan gula masih menjadi titik lemah Indonesia. Data Badan Pusat Statistik mencatat volume impor gandum tetap tinggi, yang mayoritas berasal dari negara-negara yang kini terlibat konflik.
"Kita harus kompak sebagai bangsa dalam menghadapi berbagai potensi kerawanan sosial di dalam negeri yang dipicu tekanan ekonomi global. Terutama terhadap isu-isu yang sengaja dilemparkan oleh para provokator yang mencoba mengail di air keruh," kata Bamsoet.
Usulan Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional
Sebagai solusi konkret, KADIN Indonesia mengusulkan pembentukan Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional yang berfungsi sebagai pusat komando lintas kementerian. Lembaga ini dirancang untuk merespons dinamika global secara cepat, terutama demi menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Langkah strategis lainnya meliputi reformasi sistem sumber daya manusia pada sektor intelijen dan kepolisian. Hal ini bertujuan agar instansi keamanan lebih adaptif dalam memetakan serta menangani ancaman modern yang semakin kompleks.
"Di tingkat internasional, Indonesia harus memperkuat posisi sebagai negara non-blok yang aktif. Prinsip bebas aktif dijadikan langkah konkret untuk membangun kerja sama strategis dengan negara-negara berkembang yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan," tutur Bamsoet.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·