KAI Layani 155,8 Juta Pelanggan Subsidi hingga April 2026

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Calon penumpang antre untuk tiket pengganti pembatalan di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat total volume pelanggan dengan subsidi tarif yang dilayani KAI Group mencapai 155.809.294 pelanggan selama Januari-April 2026.

Angka tersebut terdiri dari pelanggan KA Jarak Jauh dan KA Lokal bersubsidi dengan skema PSO (Public Service Obligation) mencapai 6.221.378 pelanggan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan layanan PSO memiliki dampak sosial yang sangat luas karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat setiap hari.

“Layanan PSO memiliki arti penting dalam menjaga ruang mobilitas masyarakat tetap terbuka dan terjangkau,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Sabtu (16/5).

Selain layanan KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI, pemerintah juga memberikan subsidi tarif pada seluruh layanan Commuter Line dan LRT Jabodebek serta sebagian layanan yang dikelola KAI Bandara.

Layanan yang dikelola KAI Commuter mencatat volume pelanggan sebanyak 136.585.949 pelanggan pada Januari–April 2026. Sementara LRT Jabodebek melayani 10.667.038 pelanggan pada Januari–April 2026.

Sejumlah penumpang antre untuk naik KRL Commuter Line saat hari pertama kerja pascalibur Lebaran di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (30/3/2026). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO

Pada layanan bersubsidi yang dikelola KAI Bandara, total pelanggan Januari–April 2026 mencapai 2.334.929 pelanggan.

Layanan tersebut meliputi KA YIA Reguler yang melayani konektivitas menuju Yogyakarta International Airport, serta KA Srilelawangsa relasi Medan–Kualanamu dan Medan–Binjai yang selama ini menjadi bagian penting mobilitas masyarakat di Sumatra Utara.

Anne menjelaskan, di berbagai wilayah yang telah terhubung jaringan rel, kereta api tumbuh menjadi transportasi publik yang menjaga mobilitas masyarakat tetap bergerak dengan tarif yang terjangkau.

Di balik perjalanan-perjalanan tersebut, negara hadir melalui skema PSO atau subsidi tarif angkutan kereta api dari Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Anne menambahkan, tingginya volume pelanggan menunjukkan transportasi publik berbasis rel semakin dipercaya masyarakat untuk mendukung mobilitas harian secara aman, efisien, dan berkelanjutan.

Menurut Anne, layanan PSO juga menunjukkan pentingnya keberlanjutan dukungan pemerintah terhadap transportasi publik berbasis rel agar manfaat konektivitas dan keterjangkauan dapat terus dirasakan masyarakat luas.

“Kereta api menjadi bagian dari ruang gerak masyarakat sehari-hari. Ketika layanan yang aman dan terjangkau dapat diakses masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial dapat terus berjalan dengan baik,” tutupnya.