Kanselir Jerman Merz Sebut AS Terhina oleh Rezim Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik posisi Amerika Serikat yang dinilai sedang dipermalukan oleh rezim Iran pada Senin, 27 April 2026, di tengah ketegangan diplomatik yang meningkat dan kegagalan negosiasi perdamaian baru-baru ini di Islamabad, Pakistan.

Pernyataan terbuka ini mencerminkan rasa frustrasi para pemimpin Eropa terhadap konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Merz menilai kepemimpinan Iran sangat mahir dalam menghindari kesepakatan yang konkret saat bertemu utusan Amerika.

"The Iranians are obviously very skilled at negotiating, or rather, very skillful at not negotiating, letting the Americans travel to Islamabad and then leave again without any result," ujar Friedrich Merz, Kanselir Jerman.

Kanselir Merz menyampaikan kritik tersebut di hadapan mahasiswa di Marsberg. Ia secara spesifik menyoroti peran Garda Revolusi Iran dalam dinamika politik tersebut.

"An entire nation is being humiliated by the Iranian leadership, especially by these so-called Revolutionary Guards. And so I hope that this ends as quickly as possible," tambah Merz, Kanselir Jerman.

Merz juga membandingkan situasi saat ini dengan intervensi militer masa lalu yang sulit diselesaikan. Ia memperingatkan risiko terjebak dalam perang tanpa strategi keluar yang jelas.

"The problem with conflicts like these is always the same," kata Merz, Kanselir Jerman, "It's not just about getting in; you also have to get out. We saw that all too painfully in Afghanistan, for 20 years. We saw it in Iraq."

Kekhawatiran serupa diutarakan oleh mantan Sekretaris Jenderal NATO yang kini menjabat Menteri Keuangan Norwegia, Jens Stoltenberg. Ia menekankan bahaya eskalasi perang yang terjadi secara bersamaan di Timur Tengah dan Ukraina.

"I worry most about the fact that, of course, wars are dangerous," tutur Jens Stoltenberg, Menteri Keuangan Norwegia, kepada CNBC.

Stoltenberg menambahkan bahwa ketidakpastian perang dapat memicu penderitaan manusia dan dampak ekonomi yang lebih parah. Ia menyoroti kerentanan finansial akibat gangguan pasokan energi global.

"We have a war in Iran, the Middle East, and then we have a full-scale war in Europe, in Ukraine, and of course, wars are unpredictable. They can escalate, and if that happens, it will be first and foremost about human suffering, but it will have even bigger economic consequences than the consequences we have seen so far financially," tegas Stoltenberg, Menteri Keuangan Norwegia.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap keras setelah membatalkan rencana pembicaraan dengan negosiator di Pakistan akhir pekan lalu. Trump menegaskan posisinya melalui saluran media Fox News.

"We have all the cards," cetus Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menyatakan bahwa pihak Iran yang harus berinisiatif menghubungi Amerika Serikat jika menginginkan kelanjutan dialog. Langkah ini diambil setelah perundingan sebelumnya yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance gagal mencapai kesepakatan.

"they can come to us, or they can call us," lanjut Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Terkait kondisi di lapangan, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi adanya tawaran dari Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tawaran tersebut bergantung pada pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat dan berakhirnya perang.