Kashkari Peringatkan Potensi Kenaikan Suku Bunga Akibat Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Gubernur Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menyatakan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian baru terhadap proyeksi suku bunga Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis, 8 Mei 2026, dalam sebuah acara yang berlangsung di Marquette, Michigan.

Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, guncangan pasar energi menjadi kekhawatiran utama otoritas moneter saat ini. Ketegangan yang melibatkan Iran diprediksi dapat mengubah arah kebijakan bank sentral jika distribusi komoditas global terganggu secara signifikan.

"Mengingat ketidakpastian seputar perang Iran, saya sebenarnya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," kata Kashkari, Gubernur Federal Reserve negara bagian Minneapolis.

Kashkari menyoroti risiko jalur perdagangan maritim vital yang dapat memengaruhi inflasi global. Gangguan pada stabilitas kawasan tersebut dinilai akan memaksa Federal Reserve mengambil langkah kontraktif yang lebih agresif.

"Jika Selat Hormuz ditutup untuk jangka waktu yang lama, mungkin langkah selanjutnya perlu dilakukan dengan menaikkan suku bunga," ujar Kashkari.

Kashkari merupakan salah satu dari tiga pembuat kebijakan yang menunjukkan sikap berbeda dalam pertemuan otoritas moneter pekan lalu. Ia menentang narasi yang memberikan sinyal bahwa langkah bank sentral berikutnya dipastikan berupa pelonggaran atau penurunan suku bunga.

"Kami menolak panduan ke depan karena kami tidak ingin memberi sinyal bahwa langkah selanjutnya kemungkinan besar adalah penurunan," kata Kashkari mengenai perbedaan pendapat pada acara tersebut.

Sebelumnya, dalam sebuah tulisan yang dirilis pekan lalu, ia menegaskan dukungan terhadap stabilitas suku bunga saat ini. Namun, ia menekankan pentingnya fleksibilitas bagi para pejabat untuk merespons dinamika ekonomi yang berkembang, baik melalui penurunan maupun kenaikan.

Kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh penutupan sebagian Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari. Situasi tersebut memicu lonjakan harga energi dunia dan memberikan tekanan tambahan pada target inflasi bank sentral AS.

"Kita tidak bisa membiarkan inflasi yang tinggi menjadi normal baru," kata Kashkari.